Kedinginan,
gigil ini menyebar ke penjuru dinding - dinding kamar
Hatimu berkakuan beku
Cahaya bulan dilahapi waktu
Sampai saat ini,
belumlah hilang satu perih luka,
berdiri sendirian di ujung kamarmu,
kedinginan..
Dalam dingin yang menjelma burung hantu,
terbang menabraki mati
Matanya putih pasi ( sepucat mata puisi )
Kau akan bertahan. Kau musti bertahan !
Karena ini hari jumat, betul keramat !
Harus kau nyalakan unggun api ini,
atau nanti kau digigiti dingin pagi
kbm, 131011
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Thursday, October 6, 2011
Tuesday, October 4, 2011
Demam
Sepanjang sore angin begitu pilu
Sepanjang sore itu tubuhmu dingin beku
Kau tampak kurus kuyu
Sembab terpilin dalam berlembar - lembar pola selimut
Dan seketika itu angin mulai berlagu
Tentang hujan serta pertemuannya dengan laut
Lalu mendung datang ( mendung juga pilu )
Angin kembali bertiup, kali ini menebalkan dingin kamarmu
"Oh hujan, aku berharap kau cepat sampai kembali ke laut!"
Dalam dingin kau mengigau
mengigau..
*
Sepanjang malam lagu hujan berputar
Sepanjang malam itu tubuhmu panas gemetar
Kau terlihat begitu letih
Menghadapi demam dan selimut - selimut itu sendirian hanya
Berteman lampu dan lagu sedih
Sambil membayangkan kamarmu bakal penuh cahaya
Namun suhu tubuhmu naik belum berhenti
Menghalangi redup di matamu, kali ini kamarmu menjadi panas tinggi
"Oh caya, mata inderaku selalu ingin kau datang kembali!
Dalam panas mimpi kau memburai
terburai..
kbm, 051011
Sepanjang sore itu tubuhmu dingin beku
Kau tampak kurus kuyu
Sembab terpilin dalam berlembar - lembar pola selimut
Dan seketika itu angin mulai berlagu
Tentang hujan serta pertemuannya dengan laut
Lalu mendung datang ( mendung juga pilu )
Angin kembali bertiup, kali ini menebalkan dingin kamarmu
"Oh hujan, aku berharap kau cepat sampai kembali ke laut!"
Dalam dingin kau mengigau
mengigau..
*
Sepanjang malam lagu hujan berputar
Sepanjang malam itu tubuhmu panas gemetar
Kau terlihat begitu letih
Menghadapi demam dan selimut - selimut itu sendirian hanya
Berteman lampu dan lagu sedih
Sambil membayangkan kamarmu bakal penuh cahaya
Namun suhu tubuhmu naik belum berhenti
Menghalangi redup di matamu, kali ini kamarmu menjadi panas tinggi
"Oh caya, mata inderaku selalu ingin kau datang kembali!
Dalam panas mimpi kau memburai
terburai..
kbm, 051011
Friday, August 12, 2011
Bianglala
Musik kelam pelan mengiringi fragmen kehilangan
Aku bertahan dicerabut kenangan
Terpiuh mata sendiri, telinga sendiri, rasa hati sendiri
Aku belajar berdiri di riuh kepung api
Smg, 130811
Aku bertahan dicerabut kenangan
Terpiuh mata sendiri, telinga sendiri, rasa hati sendiri
Aku belajar berdiri di riuh kepung api
Smg, 130811
Monday, July 25, 2011
Hari Ini, Setahun Kemarin
:DA
Beberapa butir pasir dan jernih air
menciptakan senyum di manis ronamu, di manik matamu
Kita menangkap diorama cahaya sore itu
kemudian menyimpannya dalam bingkai waktu, jingga ungu
Hari ini, setahun kemarin
Dalam perjalanan menyusur panjang ramah pantai
aku ingat bagaimana tanganmu yang gemetar
kau lingkarkan di bahuku
Isyarat yang selalu ku tangkap sebagai lagu tentang rasa rindu,
sebagai peluk hangatmu
sehangat sinar yang berhasil kita peram dalam teduh mata kita
Lalu kurengkuh gemetar tubuhmu diatas geletar ombak
Kau mengangguk
Aku tersenyum kecil
saat angin menerbangkan ingatan, agar pasir mencatat nama kita di dalam desirnya
Sore itu, setahun kemarin
Dalam rembang senja
Dalam panjang luas pantai kita
kita sepakat menamakan perjalanan itu sebagai: Cinta
terimakasih cahayaa
smg, 250711
Beberapa butir pasir dan jernih air
menciptakan senyum di manis ronamu, di manik matamu
Kita menangkap diorama cahaya sore itu
kemudian menyimpannya dalam bingkai waktu, jingga ungu
Hari ini, setahun kemarin
Dalam perjalanan menyusur panjang ramah pantai
aku ingat bagaimana tanganmu yang gemetar
kau lingkarkan di bahuku
Isyarat yang selalu ku tangkap sebagai lagu tentang rasa rindu,
sebagai peluk hangatmu
sehangat sinar yang berhasil kita peram dalam teduh mata kita
Lalu kurengkuh gemetar tubuhmu diatas geletar ombak
Kau mengangguk
Aku tersenyum kecil
saat angin menerbangkan ingatan, agar pasir mencatat nama kita di dalam desirnya
Sore itu, setahun kemarin
Dalam rembang senja
Dalam panjang luas pantai kita
kita sepakat menamakan perjalanan itu sebagai: Cinta
terimakasih cahayaa
smg, 250711
Monday, July 11, 2011
Insomnia #2
Ia kepayahan saat mencoba menarik
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
Saturday, July 9, 2011
Aku Ingin Berjalan 150 Meter ke Utara
:cahayaa
Aku mencintaimu,
dalam beku suara dan pedih mata
dalam pucat pagi dan bisu sepi
dalam gersik rumput dan lindap maut
aku mencintaimu..
Aku merindukanmu,
dari riuh tawa dan sembab mata
dari hangat peluk dan hening ajuk
dari tatap haru dan kecup bibirmu
aku merindukanmu..
Aku sungguh ingin berjalan 150 meter ke utara
menyusuri lorong lama muasal segala cerita kita
namun lorong gelap itu, semakin menggelap saja
dan dari dalam jarak 150 meter itu,
terhisap semua nada, terserap segala bahasa
hingga aku tak lagi mampu mengirim suara, merapal lagi kata:
"Aku mencintaimu,
Aku merindukanmu, cahayaa !
Sungguh !!"
smg, 090711
Aku mencintaimu,
dalam beku suara dan pedih mata
dalam pucat pagi dan bisu sepi
dalam gersik rumput dan lindap maut
aku mencintaimu..
Aku merindukanmu,
dari riuh tawa dan sembab mata
dari hangat peluk dan hening ajuk
dari tatap haru dan kecup bibirmu
aku merindukanmu..
Aku sungguh ingin berjalan 150 meter ke utara
menyusuri lorong lama muasal segala cerita kita
namun lorong gelap itu, semakin menggelap saja
dan dari dalam jarak 150 meter itu,
terhisap semua nada, terserap segala bahasa
hingga aku tak lagi mampu mengirim suara, merapal lagi kata:
"Aku mencintaimu,
Aku merindukanmu, cahayaa !
Sungguh !!"
smg, 090711
Friday, July 1, 2011
Relikui
:cahayaa
/I/
Tidak ada yang samar sekarang
hanya ada aku dan kamar
Lalu kau mengintip dari sebalik jendela, yang separuh terbuka
aku bisa tahu, sebab kau membawa cahayaa didalam hitam matamu
kemudian kamarku semakin terang, semakin benderang
Maukah kau masuk ?
Sudikah kau sinari redup kantuk ?
Di kamar kurus kering ini,
aku meramal cuaca sendiri !
Menebak raut muka matahari,
aku namun perlu cahayaa disini !
/II/
Aku musti berterimakasih kepadamu sekarang
kepada cahayaa disudut matamu terang
kamarku kerlip benderang
Karena matahari meninggi, kau musti redup kembali
Demi cahayaa mu yang melangkah pergi,
aku bakal berjanji mengejar itu matahari !
kbm, 010711
/I/
Tidak ada yang samar sekarang
hanya ada aku dan kamar
Lalu kau mengintip dari sebalik jendela, yang separuh terbuka
aku bisa tahu, sebab kau membawa cahayaa didalam hitam matamu
kemudian kamarku semakin terang, semakin benderang
Maukah kau masuk ?
Sudikah kau sinari redup kantuk ?
Di kamar kurus kering ini,
aku meramal cuaca sendiri !
Menebak raut muka matahari,
aku namun perlu cahayaa disini !
/II/
Aku musti berterimakasih kepadamu sekarang
kepada cahayaa disudut matamu terang
kamarku kerlip benderang
Karena matahari meninggi, kau musti redup kembali
Demi cahayaa mu yang melangkah pergi,
aku bakal berjanji mengejar itu matahari !
kbm, 010711
Subscribe to:
Posts (Atom)