Pada pelupuk matamu,
samudera terbakar
kapal - kapal bersandar
sekoci mencari suar
Dermaga jauh di teluk, di tengkuk
penumpang riuh di hiruk pikuk
Cakrawala menyempit
menjadi liang dalam rongga di palka tubuhmu
peristiwa berhamburan
deras mengalir dari lubang gelap itu
Aku penumpang mabuk
tertunduk lesu di jeram jemu
air laut asin menyerbu mataku
air mataku deru tak tertahan ajuk
Mari kita pulang
ke kampung halaman kita bersama
pada bening pelupuk mata
Samudera hening terus menyala
sdj, 130418
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Showing posts with label Pesintas. Show all posts
Showing posts with label Pesintas. Show all posts
Friday, April 13, 2018
Saturday, November 12, 2016
Telah Ia Hilang
Telah ia sudahi lengking lolong birahi, pada ruang persegi itu, ia sendiri. Telah ia padami lentera bagi ritual terkutuk yang ia benci, yang rutin ia mulai saat terbenam hari. Kini kau tahu kenapa malam begitu membencinya, kan? Ia telah terbuang dan diasingkan dalam sebuah bentuk yang tak pernah ia kenal. Dan setelah segala rupa lenyap, maka ia tak mungkin lagi kembali ke rumah. Ataupun hanya untuk sekedar singgah di halaman masa kecilnya sambil memandang lanskap familiar, bentang pemandangan yang akrab ia kenal. Hanya dapat mengenang sulur-sulur serta akar, ia menangis sejadinya, sedalamnya, sesedunya. Pohon teduh. Pagar putih tempat ia bernaung kala terik menyambangi waktu tidur siangnya. Tak mungkin ia jumpai kembali setiap detil ingatan yang menenangkan. Ia telah hilang sangat dalam, begitu dalam, kedalam semua kebisingan dan kericuhan usia. Tak ada lagi peta yang memberi arah, tak ada lagi kompas yang menunjuk rumah.
Telah ia sudahi seluruh mimpi, ia sendiri.
seluruhnya nyeri.
sdj, 111216
Friday, August 7, 2015
Epitaph
Kita berjalan. Kemana tujuan?
adakah yang hendak berbagi angan? Angin?
Hanya mendesir dan tak pasti
sedang suatu saat, nanti, kita mati
Seperti berlayar. Kemana dermaga?
Jadi nelayan atau kembara?
Pada laut tenang atau gelombang?
Hanya kapal harus seimbang
Hidup tidak pernah perduli
Seperti seekor kuda hitam. Melaju ia
Sejauh padang rumput, seluas bujur pantai
Hidup tidak peduli, tenggelam atau mati
Asal masih cukup tenaga
Jangan! Jangan sekalipun menyerah pula!
Hidup!
Hidup di jalani! Hidup di layari!
kbm, 160615
adakah yang hendak berbagi angan? Angin?
Hanya mendesir dan tak pasti
sedang suatu saat, nanti, kita mati
Seperti berlayar. Kemana dermaga?
Jadi nelayan atau kembara?
Pada laut tenang atau gelombang?
Hanya kapal harus seimbang
Hidup tidak pernah perduli
Seperti seekor kuda hitam. Melaju ia
Sejauh padang rumput, seluas bujur pantai
Hidup tidak peduli, tenggelam atau mati
Asal masih cukup tenaga
Jangan! Jangan sekalipun menyerah pula!
Hidup!
Hidup di jalani! Hidup di layari!
kbm, 160615
Wednesday, November 12, 2014
Pembunuhan Sunyi
("Silent Murder" oleh Story of The Year)
Inilah pembunuhan sunyi
Nisan yang menyanyikan lagu pemakaman mu
Inilah sebuah kegagalan kelam
Satu hal yang menguatkan mu
Kita melaju pada jalanan sepi
Kita berlalu dari jiwa - jiwa yang kosong
Yang terbutakan oleh dingin
Lihat! Sang api terbakar menyala - nyala
Lihat! Tirai perlahan tertutup
Menunggu kalimat terakhir,
Dari huruf - huruf yang telah kau akrabi dalam hati
Kita melaju pada jalanan sepi
Kita berlalu dari jiwa - jiwa yang kosong
Yang terbutakan oleh dingin
kbm, 301014
Inilah pembunuhan sunyi
Nisan yang menyanyikan lagu pemakaman mu
Inilah sebuah kegagalan kelam
Satu hal yang menguatkan mu
Kita melaju pada jalanan sepi
Kita berlalu dari jiwa - jiwa yang kosong
Yang terbutakan oleh dingin
Lihat! Sang api terbakar menyala - nyala
Lihat! Tirai perlahan tertutup
Menunggu kalimat terakhir,
Dari huruf - huruf yang telah kau akrabi dalam hati
Kita melaju pada jalanan sepi
Kita berlalu dari jiwa - jiwa yang kosong
Yang terbutakan oleh dingin
kbm, 301014
Lukamu Abadi
Kau tertawa, tapi seperti merintih,
meringis
Kau tersenyum, tapi seperti tertatih,
menahan sedih
Luka menahun bersemayam, subur di dalam
tubuhmu hampir karam
Dihajar ombak dan batu jalanan. Hitam
Luka adalah kayu bakar, dan
yang menyala adalah api mahabiru
Berkeretak dan berderu
Lalu kau hangus, seperti kenangan dan masa lalu
Kau berjalan, tapi seperti terbakar
Kau berdiri, tapi seperti tenggelam
Kau dirampas. Kau diremas.
Kau dirampas..
kbm, 150914
meringis
Kau tersenyum, tapi seperti tertatih,
menahan sedih
Luka menahun bersemayam, subur di dalam
tubuhmu hampir karam
Dihajar ombak dan batu jalanan. Hitam
Luka adalah kayu bakar, dan
yang menyala adalah api mahabiru
Berkeretak dan berderu
Lalu kau hangus, seperti kenangan dan masa lalu
Kau berjalan, tapi seperti terbakar
Kau berdiri, tapi seperti tenggelam
Kau dirampas. Kau diremas.
Kau dirampas..
kbm, 150914
Thursday, June 5, 2014
Apa Yang Kau Palsukan Dari Tubuh Ini?
Apa yang kau palsukan dari tubuh ini?
Hanya lebam dan tak berarti
Seperti sepatu berlumpur
Berkubang dalam tanah kubur
Lucah
Pecah serta berdarah
kemana masa lalu?
kemana anak kecil yang dulu?
dimana keluargamu?
Kemana masa lalu?
Kemana kau harus pergi?
Ini kuburmu sendiri, jangan pergi!
Semua yang pernah kau tahu telah pergi
Berubah seperti hari
Seperti siang yang memalam
Seperti malam yang menyiang
Dan tahun - tahun berlalu
Berlalu!
Tahun - tahun membakarmu
Tubuhmu!
Kau lucah, pecah dan berdarah
Seperti Tanah
Dan kini kau akan selalu sendiri
Kau akan selalu menanti
Apa yang kau cari?
Apa yang ingin kau palsukan dari tubuh ini?
Hanya sekam! Semakin tak berarti
smg, 290414
Hanya lebam dan tak berarti
Seperti sepatu berlumpur
Berkubang dalam tanah kubur
Lucah
Pecah serta berdarah
kemana masa lalu?
kemana anak kecil yang dulu?
dimana keluargamu?
Kemana masa lalu?
Kemana kau harus pergi?
Ini kuburmu sendiri, jangan pergi!
Semua yang pernah kau tahu telah pergi
Berubah seperti hari
Seperti siang yang memalam
Seperti malam yang menyiang
Dan tahun - tahun berlalu
Berlalu!
Tahun - tahun membakarmu
Tubuhmu!
Kau lucah, pecah dan berdarah
Seperti Tanah
Dan kini kau akan selalu sendiri
Kau akan selalu menanti
Apa yang kau cari?
Apa yang ingin kau palsukan dari tubuh ini?
Hanya sekam! Semakin tak berarti
smg, 290414
Pesintas
Aku
adalah jalan bagi masa lalu
Mastodon - mastodon yang menyelinap
dalam menara - menara kota
Darah tumpah ruah
Dari perang yang terlalu panjang, di sepanjang
arus sungai. Nadiku sendiri.
Ketika pertama kali kubuka kelopak
mataku beberapa bertahun lalu.
Lalu, mencecap putih air susu. O, ibu?
apakah ini yang paling baik
sebelum aku tetirah?
aku adalah jalan bagi masa lalu
dan kau yang memilih di tikungan mana kau berhenti.
Aku
adalah tubuh bagi masa depan
Kapal - kapal karam dalam sebuah pelayaran.
Samudera terbelah, dan bumi berubah.
Dan mataku bukan lagi bola tapi angka - angka
digital. Ribuan koin terpasang disana,
dengan tubuhku sendiri sebagai taruhan.
apakah aku menang, atau kalah?
O, anakku, Bapakmu ini lautan luas untuk
kau menyeberang. Dan kelak kau akan berhenti
ketika kau melihat buku - buku tubuhmu sendiri, ketika
muncul mastodon - mastodon berlayar di kapal - kapalmu
lalu kau tahu mimpimu tidak akan pernah buruk lagi,
lalu masa depan?
aku adalah tubuh bagi masa depan
Rumah bagimu untuk bersemayam
kbm, 190214
adalah jalan bagi masa lalu
Mastodon - mastodon yang menyelinap
dalam menara - menara kota
Darah tumpah ruah
Dari perang yang terlalu panjang, di sepanjang
arus sungai. Nadiku sendiri.
Ketika pertama kali kubuka kelopak
mataku beberapa bertahun lalu.
Lalu, mencecap putih air susu. O, ibu?
apakah ini yang paling baik
sebelum aku tetirah?
aku adalah jalan bagi masa lalu
dan kau yang memilih di tikungan mana kau berhenti.
Aku
adalah tubuh bagi masa depan
Kapal - kapal karam dalam sebuah pelayaran.
Samudera terbelah, dan bumi berubah.
Dan mataku bukan lagi bola tapi angka - angka
digital. Ribuan koin terpasang disana,
dengan tubuhku sendiri sebagai taruhan.
apakah aku menang, atau kalah?
O, anakku, Bapakmu ini lautan luas untuk
kau menyeberang. Dan kelak kau akan berhenti
ketika kau melihat buku - buku tubuhmu sendiri, ketika
muncul mastodon - mastodon berlayar di kapal - kapalmu
lalu kau tahu mimpimu tidak akan pernah buruk lagi,
lalu masa depan?
aku adalah tubuh bagi masa depan
Rumah bagimu untuk bersemayam
kbm, 190214
Wednesday, June 13, 2012
Pusing
Darimana kau mendapatkan sakit dikepalamu ?
Dari ratusan rak buku ?
Atau angin yang berlalu ?
Gambar yang sering kau pandangi,
yang selalu kau sebut sebagai masa lalu,
tiba-tiba saja menyala, bagai diterangi nyala lentera –
lentera dan lelampu yang berkilau kilau
Hingga engkau silau
Di dalam kereta, di sepanjang perjalanan
waktu terus saja bernyanyi
Mungkin ingin menemani setiap penumpang yang mabuk oleh
cuaca dan udara
Lalu kita serupa roda, yang mengikuti arah takdir
di atas rel. Berputar begitu saja
Stasiun demi stasiun sudah berlalu
Berlalu begitu saja
Kau dan aku sama serupa pengembara
Tapi kita tak pernah punya waktu untuk bercerita
Sebab masa lalu selalu berhasil menangkap
kita dalam sebuah kereta tua
Dan memerangkap kita kesebuah gambar di dinding senja
Kurasa, lebih baik secepat mungkin kita musti pergi
Sebagai roda, sebagai waktu yang berhenti
Sebab deru angin yang terbawa kereta ini
adalah kata – kataku yang pusing terjebak dinding janji
Setelah ini seorang masinis akan mencoba mencari kita, di
sebuah rak buku
Di sebuah stasiun tua, tempat habis usia
Darimana kau dapatkan sakit di kepalamu ?
Di stasiun tua ?
Atau dari dalam gambar yang terang menyala ?
Kbm, 040512
Wednesday, December 14, 2011
Dari Ingar Pasar Itu, Aku Ingin Pergi !
Dingin. Bagai sebuah transaksi,
mataku selalu ingin kubeli sendiri.
Dengan mata uang yang kau kenali.
Nilai tukar yang tak mungkin tertukar lagi.
Seperti hatimu.
Beku.
Dari ingar pasar yang pecah dibalik punggungku,
pagi pecah menjadi beberapa keping recehan.
Malam bising, ribut berkemerincing.
Dan aku sempoyongan saat mencoba
mencari kios yang menjual dan melayani dengan
jujur.
Seperti saudara sekandung sebujur.
Aku tersesat dalam sebuah transaksi.
Begitu kedinginan.
Begitu berisik pasar ini, disibukkan dengan obral
obrolan - obrolan murah.
Dengan rayuan dan tipuan murah.
Dengan matamu yang setiap saat menipu,
atau hatimu yang kau tawarkan, yang asli dan yang
palsu.
Lalu aku segera tahu, bahwa menjadi pembeli
bisa berarti siap merugi !
Dari kedalaman pasar itu aku ingin pergi. Lari !
Dan membeli waktu dengan harga pasti.
Tak seperti senyummu yang dingin pasi.
kbm, 141211
mataku selalu ingin kubeli sendiri.
Dengan mata uang yang kau kenali.
Nilai tukar yang tak mungkin tertukar lagi.
Seperti hatimu.
Beku.
Dari ingar pasar yang pecah dibalik punggungku,
pagi pecah menjadi beberapa keping recehan.
Malam bising, ribut berkemerincing.
Dan aku sempoyongan saat mencoba
mencari kios yang menjual dan melayani dengan
jujur.
Seperti saudara sekandung sebujur.
Aku tersesat dalam sebuah transaksi.
Begitu kedinginan.
Begitu berisik pasar ini, disibukkan dengan obral
obrolan - obrolan murah.
Dengan rayuan dan tipuan murah.
Dengan matamu yang setiap saat menipu,
atau hatimu yang kau tawarkan, yang asli dan yang
palsu.
Lalu aku segera tahu, bahwa menjadi pembeli
bisa berarti siap merugi !
Dari kedalaman pasar itu aku ingin pergi. Lari !
Dan membeli waktu dengan harga pasti.
Tak seperti senyummu yang dingin pasi.
kbm, 141211
Saturday, November 19, 2011
Ngilu
Seketika itu seluruh sendi dalam tubuhmu kaku
Dihimpit ruang kamar,
Wajahmu memar biru
Dari setiap penjuru, dingin datang
Lalu sigap mencengkam, menyerang
Sakitnya menyala ke seluruh ruas tulang
Hingga ngilu mengerang
*
Cuaca berubah – ubah selalu, angin berlalu
Nyeri berkeretak tulang, bagai rumpunan bambu
Menahan beban kepala, tubuh, hati pilumu
Terasa itu begitu ngilu
*
Kau berdiri, walau goyah kaki
Walau tulangmu pedih peri
( sepertinya digigiti dingin pagi )
Namun kau bangun berdiri
Jangan takut ! Berlarilah !
Dalam gegap gelap kabut, menghilanglah !
Ngeri itu cuma kiasan, bagi penyakit menahun yang musti kau tahan
Jangan takut ! Ber-apilah !
Memar di tulangmu, tak acuhlah !
Angin, pergilah !
Kbm, 161111
Dihimpit ruang kamar,
Wajahmu memar biru
Dari setiap penjuru, dingin datang
Lalu sigap mencengkam, menyerang
Sakitnya menyala ke seluruh ruas tulang
Hingga ngilu mengerang
*
Cuaca berubah – ubah selalu, angin berlalu
Nyeri berkeretak tulang, bagai rumpunan bambu
Menahan beban kepala, tubuh, hati pilumu
Terasa itu begitu ngilu
*
Kau berdiri, walau goyah kaki
Walau tulangmu pedih peri
( sepertinya digigiti dingin pagi )
Namun kau bangun berdiri
Jangan takut ! Berlarilah !
Dalam gegap gelap kabut, menghilanglah !
Ngeri itu cuma kiasan, bagi penyakit menahun yang musti kau tahan
Jangan takut ! Ber-apilah !
Memar di tulangmu, tak acuhlah !
Angin, pergilah !
Kbm, 161111
Thursday, October 6, 2011
Gigil
Kedinginan,
gigil ini menyebar ke penjuru dinding - dinding kamar
Hatimu berkakuan beku
Cahaya bulan dilahapi waktu
Sampai saat ini,
belumlah hilang satu perih luka,
berdiri sendirian di ujung kamarmu,
kedinginan..
Dalam dingin yang menjelma burung hantu,
terbang menabraki mati
Matanya putih pasi ( sepucat mata puisi )
Kau akan bertahan. Kau musti bertahan !
Karena ini hari jumat, betul keramat !
Harus kau nyalakan unggun api ini,
atau nanti kau digigiti dingin pagi
kbm, 131011
gigil ini menyebar ke penjuru dinding - dinding kamar
Hatimu berkakuan beku
Cahaya bulan dilahapi waktu
Sampai saat ini,
belumlah hilang satu perih luka,
berdiri sendirian di ujung kamarmu,
kedinginan..
Dalam dingin yang menjelma burung hantu,
terbang menabraki mati
Matanya putih pasi ( sepucat mata puisi )
Kau akan bertahan. Kau musti bertahan !
Karena ini hari jumat, betul keramat !
Harus kau nyalakan unggun api ini,
atau nanti kau digigiti dingin pagi
kbm, 131011
Tuesday, October 4, 2011
Demam
Sepanjang sore angin begitu pilu
Sepanjang sore itu tubuhmu dingin beku
Kau tampak kurus kuyu
Sembab terpilin dalam berlembar - lembar pola selimut
Dan seketika itu angin mulai berlagu
Tentang hujan serta pertemuannya dengan laut
Lalu mendung datang ( mendung juga pilu )
Angin kembali bertiup, kali ini menebalkan dingin kamarmu
"Oh hujan, aku berharap kau cepat sampai kembali ke laut!"
Dalam dingin kau mengigau
mengigau..
*
Sepanjang malam lagu hujan berputar
Sepanjang malam itu tubuhmu panas gemetar
Kau terlihat begitu letih
Menghadapi demam dan selimut - selimut itu sendirian hanya
Berteman lampu dan lagu sedih
Sambil membayangkan kamarmu bakal penuh cahaya
Namun suhu tubuhmu naik belum berhenti
Menghalangi redup di matamu, kali ini kamarmu menjadi panas tinggi
"Oh caya, mata inderaku selalu ingin kau datang kembali!
Dalam panas mimpi kau memburai
terburai..
kbm, 051011
Sepanjang sore itu tubuhmu dingin beku
Kau tampak kurus kuyu
Sembab terpilin dalam berlembar - lembar pola selimut
Dan seketika itu angin mulai berlagu
Tentang hujan serta pertemuannya dengan laut
Lalu mendung datang ( mendung juga pilu )
Angin kembali bertiup, kali ini menebalkan dingin kamarmu
"Oh hujan, aku berharap kau cepat sampai kembali ke laut!"
Dalam dingin kau mengigau
mengigau..
*
Sepanjang malam lagu hujan berputar
Sepanjang malam itu tubuhmu panas gemetar
Kau terlihat begitu letih
Menghadapi demam dan selimut - selimut itu sendirian hanya
Berteman lampu dan lagu sedih
Sambil membayangkan kamarmu bakal penuh cahaya
Namun suhu tubuhmu naik belum berhenti
Menghalangi redup di matamu, kali ini kamarmu menjadi panas tinggi
"Oh caya, mata inderaku selalu ingin kau datang kembali!
Dalam panas mimpi kau memburai
terburai..
kbm, 051011
Monday, July 11, 2011
Insomnia #2
Ia kepayahan saat mencoba menarik
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
Monday, June 13, 2011
Pucat
Terang itu sebenarnya abu - abu
Mungkin itu segamping batu
Mungkin debu, mungkin sepatu yang musti kau pakai tiap hari minggu
Atau mungkin cuma lagu yang selalu berputar di ujung malam harimu ?
(Lagu itu lagu yang memburu mimpi - mimpi burukmu)
Kau harus selalu tahu bagaimana muka langit berubah - ubah
Namun hanya mendung yang perlu kau cemaskan
bila kau alpa membawa sebilah payung atau mantel palstik palsu
Sebab kau tak pernah hafal bagaimana merapal mantra penolak hujan, bukan ?
Dan kau tak tahu bukan, bagaimana terang muka matahari
yang berubah putih pasi
saat harus menyinari segamping batu di telapak sepatumu ?
(pada pucat hari minggu)
*
Dengan suhu tubuh yang tinggi
Wajahmu putih mutih seperti kuah kari
Lalu tubuhmu akan berpilin dengan berlembar - lembar selimut
Dan dalam kalibut cuaca kau mulai hanyut
Entah
Pada musim semi ?
atau di akhir bulan Mei ?
kbm, 130611
Mungkin itu segamping batu
Mungkin debu, mungkin sepatu yang musti kau pakai tiap hari minggu
Atau mungkin cuma lagu yang selalu berputar di ujung malam harimu ?
(Lagu itu lagu yang memburu mimpi - mimpi burukmu)
Kau harus selalu tahu bagaimana muka langit berubah - ubah
Namun hanya mendung yang perlu kau cemaskan
bila kau alpa membawa sebilah payung atau mantel palstik palsu
Sebab kau tak pernah hafal bagaimana merapal mantra penolak hujan, bukan ?
Dan kau tak tahu bukan, bagaimana terang muka matahari
yang berubah putih pasi
saat harus menyinari segamping batu di telapak sepatumu ?
(pada pucat hari minggu)
*
Dengan suhu tubuh yang tinggi
Wajahmu putih mutih seperti kuah kari
Lalu tubuhmu akan berpilin dengan berlembar - lembar selimut
Dan dalam kalibut cuaca kau mulai hanyut
Entah
Pada musim semi ?
atau di akhir bulan Mei ?
kbm, 130611
Thursday, May 26, 2011
Insomnia
Tancapkan sebilah tajam pisau ke dadaku saat ini juga !
atau aku harus terbunuh badai air mata
dan kau musti basah kuyup menguburku di tepi kota Roma
*
Tenggelamkan (atau jatuhkan) aku ke kedalaman Bermuda saat ini juga!
atau aku akan hangus terbakar seluruh cintamu yang nyala
dan kau akan tertawa, saat angin utara menggiring jasad abuku kelana menuju Bratislava
kbm, 250511
atau aku harus terbunuh badai air mata
dan kau musti basah kuyup menguburku di tepi kota Roma
*
Tenggelamkan (atau jatuhkan) aku ke kedalaman Bermuda saat ini juga!
atau aku akan hangus terbakar seluruh cintamu yang nyala
dan kau akan tertawa, saat angin utara menggiring jasad abuku kelana menuju Bratislava
kbm, 250511
Monday, June 2, 2008
Bila Kau Mau
Bila kau mau
Bertukar wajah dengan sedepa alur waktu
Atau batu yang mekar disetubuhi benalu
Yang senyawanya hinggap di sela pagar rumput dan matahari
Dalam kaki – kaki suara yang mati
( karena sepi )
Empat arah dari naungan lampu langit ini
Tetap saja tak berkawan bagimu
Percuma saja...
Seratus nol pun tak bisa membawamu juga
Merangkak keluar dari bawah malam
Dan dari kamar biru yang berpintu kelam
Habis...
Senja pun mulai ditikam senyum bulan
Mau saja kau ditipu bulan
Bila kau mau
Tubuhmu masih bisa ditukar cerita
Antara hitam, temaram atau karam
Sama saja tetap saja kamar ini yang jadi penjara
Mati kau dihimpit malam
Clp, 310508 23.44
Bertukar wajah dengan sedepa alur waktu
Atau batu yang mekar disetubuhi benalu
Yang senyawanya hinggap di sela pagar rumput dan matahari
Dalam kaki – kaki suara yang mati
( karena sepi )
Empat arah dari naungan lampu langit ini
Tetap saja tak berkawan bagimu
Percuma saja...
Seratus nol pun tak bisa membawamu juga
Merangkak keluar dari bawah malam
Dan dari kamar biru yang berpintu kelam
Habis...
Senja pun mulai ditikam senyum bulan
Mau saja kau ditipu bulan
Bila kau mau
Tubuhmu masih bisa ditukar cerita
Antara hitam, temaram atau karam
Sama saja tetap saja kamar ini yang jadi penjara
Mati kau dihimpit malam
Clp, 310508 23.44
Thursday, April 24, 2008
Tidur
Aku telah tertidur
Lelah terlelap
Sehingga jatuh merayap
Hati, jantung, mata, akal…
Berurut satu perlahan mati
Lemas bernafas
Terbunuh hari
Semarang
301207
Lelah terlelap
Sehingga jatuh merayap
Hati, jantung, mata, akal…
Berurut satu perlahan mati
Lemas bernafas
Terbunuh hari
Semarang
301207
Wednesday, March 19, 2008
Lupa
Hitam…
Mati…
Hilang…
Beku
Terhimpit waktu
Lupa aku siapa
Walau aku tahu aku hina
Masih terluka
Biar…
Biar…
Aku tak mau ingat aku
Kalah…
Menyerah…
10.17 PM
230108
Mati…
Hilang…
Beku
Terhimpit waktu
Lupa aku siapa
Walau aku tahu aku hina
Masih terluka
Biar…
Biar…
Aku tak mau ingat aku
Kalah…
Menyerah…
10.17 PM
230108
Tuesday, February 5, 2008
Aku Hanya 20
Aku benci akan hal ini
Hei...
Aku hanya ingin kau mengerti
Seperti apa aku emosi
Saat orang yang hanya berumur 20
Menahan pikiran dari amarah !!!
Engkau dan aku tak tahu
Ini tentang egoku...
Hampir lepas mencabik
Tembok batu bisu...
Darahku memang seperti ini !!!
19.49 P.M
160807
Hei...
Aku hanya ingin kau mengerti
Seperti apa aku emosi
Saat orang yang hanya berumur 20
Menahan pikiran dari amarah !!!
Engkau dan aku tak tahu
Ini tentang egoku...
Hampir lepas mencabik
Tembok batu bisu...
Darahku memang seperti ini !!!
19.49 P.M
160807
Titik Nol
Selamat malam
Menyapa hidup di titik nol
Namun masih beku menemaniku
Dingin bermain ruang dan waktu
Kosong...
Tanganku masih kosong
Tapi aku belajar menari
Saat aku belajar berlari...
Dan sampaikan pada hujan
Aku tak takut menyapa badai
Dan gerimis mencariku menangis
Aku pasti akan terbang
Mencoba sayap baru di punggungku
Menembus awan udara dan debu
Langit masih disitu
Masih tinggi membisu
Menunggu aku di titik nol
08.53
010907 “ Mencoba terbang... “
Menyapa hidup di titik nol
Namun masih beku menemaniku
Dingin bermain ruang dan waktu
Kosong...
Tanganku masih kosong
Tapi aku belajar menari
Saat aku belajar berlari...
Dan sampaikan pada hujan
Aku tak takut menyapa badai
Dan gerimis mencariku menangis
Aku pasti akan terbang
Mencoba sayap baru di punggungku
Menembus awan udara dan debu
Langit masih disitu
Masih tinggi membisu
Menunggu aku di titik nol
08.53
010907 “ Mencoba terbang... “
Subscribe to:
Posts (Atom)