Monday, February 19, 2018

Pelajaran Rumus Sajak

:AFK yg selalu cemburu

Aku tak pandai berhitung
ataupun menghapal persamaan matematika
Namun kali ini aku terpaksa menuliskan rumus kalkulus
serta deretan bilangan imajiner yang meratap
dalam sebuah sajak kaku
"Secara definisi, bilangan imajiner itu diperoleh dari menyelesaikan  persamaan kuadratik berikut ini.
x²+1 = 0 
secara ekuivalen akan menjadi x² = -1  atau sering dituliskan sebagai x=√-1"

Kalau puisi itu mengandung unsur molekul,
maka oksigen akan beremulsi dengan atom karbon,
lalu berakselerasi dengan kecepatan konstan
setara besaran massa zat cair yang biasa disebut "hujan".
Rumus nya adalah sebagai berikut:  
Sehingga, besaran molar suatu benda dapat terukur
dengan membandingkan kesepian dan suhu badanku yang berteriak menahan rindu tahunan

Hari ini aku hendak menggunakan pleonasme dengan takaran melebihi ukuran
supaya rasa masakan kalimat kali ini tak terasa hambar
seperti sajak ku yang biasanya
Agar tak terdengar bunyi cinta gadungan
atau sepicis roman recehan. Sebab rasa hambar yang itu-itu saja
pasti akan dicemburui olehmu
yang saat ini tengah hamil empat bulan

Mungkin kau tak dapat menyadari
betapa kompleks menulis puisi
Biarlah aku saja yang mengerjakan
PR rumit tata bahasa
     Yang perlu bersama kita pelajari
     dalam tugas belajar kelompok kita
     adalah: Rumus untuk selalu bahagia

sdj, 190218

Thursday, February 15, 2018

Lilin

Dalam gelap itu
kau tawarkan lidahmu padaku
sepotong api yang menggeletar menari
di ujung licin tubuh pucat putih lesi

Nyawamu diuntai seutas tali sumbu
Akar yang tertanam dan mengerak
sejak zaman hanya hitungan rangkak, berabad-abad lalu
tapal-tapal kuda perang
mengguncang debar peradaban
Barangsiapa membawamu dalam gulita malam,
maka tak akan tersesat sepanjang perjalanan

Aku tahu,
kau pasti berharap untuk tak pernah bertemu lampu,
supaya kami tak bosan-bosan
untuk selalu menyalakan sumbu
waktu malam turun menepi.
Atau, kau malah berdoa lampu cepat nyala kembali?
Agar kau tak habis mati
dikoyak lidah apimu sendiri

sdj, 150218

Monday, February 12, 2018

Putih Abu-abu

Kita kembali belajar menyimpul dasi dalam seragam putih abu-abu
Kemudian pergi mengikat tali sepatu sambil berpamitan kepada ibu
Kita hendak mengulang waktu
ke masa lalu yang teramat kita cintai
Ketika pena dan buku adalah kawan setia kita setiap pagi

Aku melihatmu dalam seragam sekolah mu yang dulu
Kita saling lirik
saling bertukar tatap dalam detik
Engkau tersipu
Aku mesti mengakui engkau tampak begitu cantik
Bagaimana aku sanggup menahan seluruh gaduh di sekujur tubuhku,
saat mata itu menemukan rumah baginya
untuk memeram rindu?

Oh,
Andai saja kita benar masih remaja
Hatiku hendak mengirim cokelat dan bunga kepadamu
Dan mungkin kita bisa jadi pengantin
di kelas drama
atau dalam tugas sajak bahasa Indonesia
(atau ditengah tidur lelap kita?
mungkin saja)

Sore
Dentang lonceng kembali
Kelas telah usai
Hatiku masih tertinggal

sdj, 120218

(Raker Area Cilacap 2018)

Saturday, February 10, 2018

Almari

Apakah engkau keberatan menyimpan lembar-lembar baju seperti kau kesusahan menyimpan kenangan-kenangan kusut milik ku?
Ruas-ruas tubuh mu yang di partisi, nampak sesak tak lega lagi
Ruang yang tak cukup tinggi itu penuh sesak dijejali rindu,
perasaan-perasaan keriput yg menolak ditata rapi,
serta jaket merah jambu yang bersikeras ingin menyendiri

Aku tak hendak menjadikan mu brankas besi yang ku isi uang perak perunggu
karena aku tahu, kau hanya sekotak kayu pohon mahoni
dipahat beberapa abad lalu
Maka, bersahabat lah dengan para kutu
Sebab bisa saja mereka lebih peduli
terhadap musim yang bergonta-ganti
Dan mereka pula yang bertugas jaga kompartemen dalam tubuh mu
sehingga baju dan pakaianku tak beku dimakan hari

Aku akan meletakkan mu di sudut kanan kamarku
berdiam dan berdoalah dengan khusyuk
Karena kain dan kenangan yang saat ini kau simpan
berebut keluar dari dada mu
     Dada mu?
     pada dada mu, seluruh gemuruh mendung berkumpul untuk disetrika

sdj, 110218

Tuesday, February 6, 2018

Kunci

Sungguh
Engkaulah pemegang kuasa
bagi sesiapa pun yang hendak singgah
atau menumpang tetirah
Melalui persetubuhan celah pintu dengan engkau , terciptalah: Rumah
Kau yakin sekali
bila tanpa rayuanmu kepada pintu
maka mereka akan tergeletak menggeletuk kedinginan
di selasar bersama lampu
Sebab itulah kau selalu bersyarat kepada
para pemilikmu, agar selalu berdzikir
sebelum menggoyangkan lencang batangmu
ke sela lubang gelap itu

Namun, malam ini aku ingin mengendap-endap
dan berusaha untuk tetap tak terlihat oleh matamu
Seperti seekor rubah, aku ingin menyelinap
di bawah hidungmu yang memerah
Engkau tak bergeming
saat ku koyak kemaluan pintu, serta ku remas gerendelnya didalam mulutku
Dari darah yang mengucur itu aku kibaskan ekorku hingga kebas
Kemudian kutinggalkan Rumah yang kebingungan tanpa arah
dendam pun tuntas terbalas
tangis pun tercurah

sdj, 070218