Disini lah kami berhenti
pada kata-kata yang tak dapat memilih dirinya sendiri
pada lindap senyap bunyi yang berakhir pada dentum tik-tok jam dinding
di kamar..
di kamar
Di kamar remang penuh bayang
hijau samar mengerumuni kertas yang berserakan
sebuah catatan,
sebuah tulisan yang selalu tak selesai
pena yang lesu
menumpahkan kalimat-kalimat palsu
di kamar
Kami lah kabilah dari selarik halaman buku
pada sebuah halaman rumah yang tertinggal
meninggalkan jejak yang tercecer pada dentum jam tik-tok
dalam ruangan persegi atau bulat ini
di bentang lanskap sepi
di kamar
Perjalanan kami ini adalah kembara yang tertukar
dari kepongahan seorang perdana menteri yang berjalan terburu-buru
tergopoh-gopoh sambil membawa buncit pada perutnya
titah yang ketul tumpul
membawa kami kepada arah yang sangat asing
daratan yang tak terlacak lagi oleh kompas - kompas kami
yang telah lama tandas dalam lambung kuda dan unta kami sendiri
di semak-semak belukar
di kamar
Kami buka lagi beberapa larik catatan yang terserak
Di meja ini akhirnya tersisa sebatang kunci
untuk melunasi kekurangan ilmu yang kami punya
sebuah menara kesedihan telah dikosongkan oleh para prajurit penjaga malam
yang bergegas menodongkan laras senapan nya
saat pintu meja itu akan kami buka
"Minggirlah!"
"Menyingkirlah, hai pengubah sejarah!"
teriakan nya yang seperti gumam
di meja di depan pintu di menara
di kamar
Keterasingan pada sebuah catatan yang lain
menghentikan langkah kami selanjutnya
Lindap senyap kotak persegi mengurung tubuh yang memberat
Parade-parade kalimat mondar-mandir saja dijantung kami
dentum
derap
di kamar yang serba gelap
Penjara penuh tikus tanah yang sibuk mencuri jari-jari kaki waktu
bergerombol bercericit riuh dalam lorong sempit
sebuah pena
Kami tak akan membayangkan lagi terang cahaya
di kamar
Kami menerima semua gulita yang memenuhi mata-mata dan telinga kami
di kamar
di kamar
di kamar
sejarah telah terukir dan tak akan terulang kembali
kry, 110120
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Showing posts with label Balada Kertas. Show all posts
Showing posts with label Balada Kertas. Show all posts
Friday, January 10, 2020
Thursday, January 17, 2019
Menemukan Titik
Tak mengapakah bila kita tak jua
menemukan titik di sepanjang cerita?
Padahal koma telah bosan
mondar mandir dari halaman ke halaman
dan ia selalu hampir terjatuh saat
bertemu tanda tanya besar
di ujung kalimat dekat rumahnya
Masih bisakah kau menemaniku berjalan
menyusuri cerita?
Mencari titik hingga habis usia
walaupun, mungkin, aku tak pernah benar-benar tahu
ke arah mana harus berlalu
dan halaman buku selalu suka menipu
dengan huruf-huruf serta alamat yang palsu
Di sela-sela paragraf aku akan selalu menyelipkan
kosakata rindu untukmu
supaya kau bisa selalu menemukan
pintu kayu tempat kita meletakkan janji
kepada bunga-bunga kertas
bahwa kita akan saling berpeluk
serta akan saling menemukan satu sama lain
sebelum titik terakhir terbubuh pada buku ini
kry, 120119
menemukan titik di sepanjang cerita?
Padahal koma telah bosan
mondar mandir dari halaman ke halaman
dan ia selalu hampir terjatuh saat
bertemu tanda tanya besar
di ujung kalimat dekat rumahnya
Masih bisakah kau menemaniku berjalan
menyusuri cerita?
Mencari titik hingga habis usia
walaupun, mungkin, aku tak pernah benar-benar tahu
ke arah mana harus berlalu
dan halaman buku selalu suka menipu
dengan huruf-huruf serta alamat yang palsu
Di sela-sela paragraf aku akan selalu menyelipkan
kosakata rindu untukmu
supaya kau bisa selalu menemukan
pintu kayu tempat kita meletakkan janji
kepada bunga-bunga kertas
bahwa kita akan saling berpeluk
serta akan saling menemukan satu sama lain
sebelum titik terakhir terbubuh pada buku ini
kry, 120119
Wednesday, November 8, 2017
Panel Sepi
Kita diam
dalam seribu kerangka pikir yang mejan
Balon-balon percakapan yang terlanjur tertahan
kalimat tak pernah lewat
hanya udara melompat-lompat
Aku berulang kali memikirkan mu
kata-kata ku mencoba menebak kalimat-kalimat mu
apakah isi sama dengan sampiran?
akankah hati sama seperti dugaan?
Kalaupun harus seperti ini
mari saling hanyut dalam ruang sepi
sebagai air
sebagai matahari
kita peluk balon percakapan kita masing-masing
menatap keluar bingkai dan menjadi terasing
sdj,091017
dalam seribu kerangka pikir yang mejan
Balon-balon percakapan yang terlanjur tertahan
kalimat tak pernah lewat
hanya udara melompat-lompat
Aku berulang kali memikirkan mu
kata-kata ku mencoba menebak kalimat-kalimat mu
apakah isi sama dengan sampiran?
akankah hati sama seperti dugaan?
Kalaupun harus seperti ini
mari saling hanyut dalam ruang sepi
sebagai air
sebagai matahari
kita peluk balon percakapan kita masing-masing
menatap keluar bingkai dan menjadi terasing
sdj,091017
Saturday, June 18, 2016
Aku ingin jadi penyair!
Aku ingin jadi penyair
aku ingin lahir dari ibu buku
serta ayah pena bulu
Dan tumbuh besar di kota puisi
Aku ingin masa kanak-kanak penyair
Penyair kekanak-kanakan
Main di kebun kata
Kawanku titik dan koma
Lalu kami berkejaran. Dengan tulisan
Tubuhku kotor penuh bercak tinta
Aku ingin jadi penyair
aku ingin syair menulisku
aku mau kalimat-kalimat melahap tubuhku
kemudian tubuhku terbakar bersama seserakan kertas cerita
Hingga hanya sajak-sajakku saja tersisa
Sesudah aku tak ada
clp, 180316
aku ingin lahir dari ibu buku
serta ayah pena bulu
Dan tumbuh besar di kota puisi
Aku ingin masa kanak-kanak penyair
Penyair kekanak-kanakan
Main di kebun kata
Kawanku titik dan koma
Lalu kami berkejaran. Dengan tulisan
Tubuhku kotor penuh bercak tinta
Aku ingin jadi penyair
aku ingin syair menulisku
aku mau kalimat-kalimat melahap tubuhku
kemudian tubuhku terbakar bersama seserakan kertas cerita
Hingga hanya sajak-sajakku saja tersisa
Sesudah aku tak ada
clp, 180316
Lukisan Perang
Aku mendengar gempar dari dalam lukisan perang
Suara debar derap kuda samar-samar
digambar dengan tinta cokelat
menempel datar pada kanvas, seperti karat.
Suara debar derap kuda samar-samar
digambar dengan tinta cokelat
menempel datar pada kanvas, seperti karat.
Aku tak perlu mencintaimu
ketika lewat sesayat bekas lukamu saja,
telah cukup bagi lidahku untuk merasakan
sepi.
Mencecap suara sunyi. Berat tanpa bunyi
Saat jarimu ikut terlukis di medan perang
kau ikut tempur dengan garis dan lengkung, bukan?
ketika lewat sesayat bekas lukamu saja,
telah cukup bagi lidahku untuk merasakan
sepi.
Mencecap suara sunyi. Berat tanpa bunyi
Saat jarimu ikut terlukis di medan perang
kau ikut tempur dengan garis dan lengkung, bukan?
Bukit yang indah itu penuh darah,
sayang.
Padahal baru sekejap, telapak di kakiku memandang
semburat cahaya warna bulat
sepertinya itu gambar matahari
yang buru-buru ingin pergi
Biar perang cepat berhenti
Aku mencium getir ciut nyali
aroma kekalahan, luruh kelelahan
lalu gemuruh berjatuhan
seperti kesedihan.
Siapa korban? Siapa pahlawan?
Ku sentuh lukisan perang pelan-pelan
lewat mataku
kemudian punggungku terbakar. Rasa kemenangan
Dalam kamarku pemakaman
Ratapan
kbm-clp, 270216
Friday, August 7, 2015
Permohonan Maaf
Kepada buku dan pena,
yang sering bertanya: "kemana jemari?"
permohonan maaf bagi mereka berdua
karena letih, karib setia waktu malam telah tiba
hingga, sajak hampa
puisi tak tercipta
kbm, 160615
yang sering bertanya: "kemana jemari?"
permohonan maaf bagi mereka berdua
karena letih, karib setia waktu malam telah tiba
hingga, sajak hampa
puisi tak tercipta
kbm, 160615
Lagu Lelap
Aku mau terbangun dalam tumpukan buku
Dalam halaman-halaman cerita,
di kedalaman huruf dan tanda baca
Supaya saban malam aku mampu berdongeng
Untuk lelaki kecil tampan dan ibundanya,
menjelang lelap tidur mereka
*
Aku mau tidur khidmat dalam sebuah puisi
Di nina bobo kalimat-kalimat ku sendiri
Hingga aku bermimpi, tentang rumah
Tentang cinta, tentang seluruh perasaan bahagia di dalamnya
Dan tentang puisi
Jatuh cintaku yang paling abadi
kbm, 010315
Friday, August 23, 2013
Ode Bagi Penyair
/1/
Kau masih berdiri, sayang
menatap se bait puisi
Dalam sebuah kamar, sebuah bayang
Kau mengarsir ruang. Sepi.
"Bukankah kau telah pergi ?" kau bertanya padaku
"Kapan kau datang ? Aku sudah terjaga" jawabku
Lalu kita bersama - sama menempelkan malam
di halaman ke berapa buku itu
Kau ragu - ragu, sebab malam
tak terbiasa menjemputmu dan kedua belah tanganmu
/2/
Kau telah tidur. Tidak
barangkali kau hanya sedang tepekur
aku hampir saja merobek halaman itu
saat mendengarmu mendengkur
Aku melanjutkan diri
tetirah di sehalaman puisi
memanjatkan doa sebagaimana mestinya
Supaya nanti semesta berdongeng cerita
tentang si kancil dan penyair
/3/
"Engkau tak sedang melirik waktu, kan ?"
tiba - tiba kau bertanya padaku. Kau begitu
mencintai waktu, sayang. Aku tahu.
Lalu, kata apa yang paling kau benci ?
yang kau tak mau jadikan puisi
Aku memilih diam
Suasana yang kelam
Halaman buku semakin gelap seperti malam
Lalu, maukah kau menuliskan
kata itu di penghujung puisimu ?
kemudian,
kbm, 220813
Kau masih berdiri, sayang
menatap se bait puisi
Dalam sebuah kamar, sebuah bayang
Kau mengarsir ruang. Sepi.
"Bukankah kau telah pergi ?" kau bertanya padaku
"Kapan kau datang ? Aku sudah terjaga" jawabku
Lalu kita bersama - sama menempelkan malam
di halaman ke berapa buku itu
Kau ragu - ragu, sebab malam
tak terbiasa menjemputmu dan kedua belah tanganmu
/2/
Kau telah tidur. Tidak
barangkali kau hanya sedang tepekur
aku hampir saja merobek halaman itu
saat mendengarmu mendengkur
Aku melanjutkan diri
tetirah di sehalaman puisi
memanjatkan doa sebagaimana mestinya
Supaya nanti semesta berdongeng cerita
tentang si kancil dan penyair
/3/
"Engkau tak sedang melirik waktu, kan ?"
tiba - tiba kau bertanya padaku. Kau begitu
mencintai waktu, sayang. Aku tahu.
Lalu, kata apa yang paling kau benci ?
yang kau tak mau jadikan puisi
Aku memilih diam
Suasana yang kelam
Halaman buku semakin gelap seperti malam
Lalu, maukah kau menuliskan
kata itu di penghujung puisimu ?
kemudian,
kbm, 220813
Thursday, August 15, 2013
Dalam Sebuah Kamar
Pintu itu terbuka
kau masuk bersama angin
kedalam sunyi
sepi yang terjebak di sebuah almari
sejak kapan kau belajar membaca ?
Matamu melihat ke arah jendela
menatap kaca atau meratapi cuaca ?
akan sederas apa hujan pagi nanti ?
kau tak pernah punya arah yang pasti
Betapa berbatu jalan yang harus kau lewati
menuju kantuk dan mimpi
seolah pembaringanmu adalah hamparan duri
hingga kau tersedak
waktu berdetak
nyala lampu temaram, menyelami malam
Pintu itu menutup kembali
engkau tertinggal, angin berlalu pergi
dingin yang sama masih terasa, di dinding kamar
di pagi yang samar
dinding yang pucat dan sepi
seperti mimpi
seperti puisi
kbm, 190413
kbm, 190413
Saturday, November 19, 2011
Pelajaran Membaca
Aku benar – benar tak pernah bisa menemukan nama dalam wajahmu
Matamu hanya memberi tanda kedip dan kerlip
Begitu penuh sesak pertanyaan dalam mulutku
Yang belum berhasil pula kucatatkan bagimu,
Masih separuh ragu – ragu
Aku benar – benar tak pernah dapat menebak isyarat dalam hatimu
Mulutmu hanya menceritakan beberapa larik tentang hujan
Belum juga reda seluruh mendung gemuruh di wajahmu
Hingga belum berhasil pula kususun pernyataan – pernyataan itu bagimu,
Masih separuh abu – abu
Aku benar – benar kepayahan saat harus membaca berbuku – buku senyummu
Kalimat – kalimat rahasia dalam berlembar – lembar kisah itu
Kbm, 161111
Matamu hanya memberi tanda kedip dan kerlip
Begitu penuh sesak pertanyaan dalam mulutku
Yang belum berhasil pula kucatatkan bagimu,
Masih separuh ragu – ragu
Aku benar – benar tak pernah dapat menebak isyarat dalam hatimu
Mulutmu hanya menceritakan beberapa larik tentang hujan
Belum juga reda seluruh mendung gemuruh di wajahmu
Hingga belum berhasil pula kususun pernyataan – pernyataan itu bagimu,
Masih separuh abu – abu
Aku benar – benar kepayahan saat harus membaca berbuku – buku senyummu
Kalimat – kalimat rahasia dalam berlembar – lembar kisah itu
Kbm, 161111
Pelajaran Mengingat
Lampu – lampu kota dan nyala redupnya itu
Mengingatkan aku kepadamu
Etalase toko yang berjajar penuh warna – warni itu
Mengingatkanku padamu
Perjalanan panjang semalam suntuk itu
Mengingatkanku kepadamu
Sepi pagi dan lengang kota ini mengingatkan
Aku padamu
Derik jangkrik dan gerimis kecil itu
Mengingatkan aku padamu
*
Lalu, tiba – tiba kau datang di dalam sebuah lagu
Yang biasa ku dengarkan tiap malam menjelang tidur bisuku
Lagu – lagu itupun mengingatkan bahwa aku pernah begitu mencintaimu
Kbm, 161111
Mengingatkan aku kepadamu
Etalase toko yang berjajar penuh warna – warni itu
Mengingatkanku padamu
Perjalanan panjang semalam suntuk itu
Mengingatkanku kepadamu
Sepi pagi dan lengang kota ini mengingatkan
Aku padamu
Derik jangkrik dan gerimis kecil itu
Mengingatkan aku padamu
*
Lalu, tiba – tiba kau datang di dalam sebuah lagu
Yang biasa ku dengarkan tiap malam menjelang tidur bisuku
Lagu – lagu itupun mengingatkan bahwa aku pernah begitu mencintaimu
Kbm, 161111
Friday, August 12, 2011
Bianglala
Musik kelam pelan mengiringi fragmen kehilangan
Aku bertahan dicerabut kenangan
Terpiuh mata sendiri, telinga sendiri, rasa hati sendiri
Aku belajar berdiri di riuh kepung api
Smg, 130811
Aku bertahan dicerabut kenangan
Terpiuh mata sendiri, telinga sendiri, rasa hati sendiri
Aku belajar berdiri di riuh kepung api
Smg, 130811
Friday, January 7, 2011
Balada Kertas
Aku hanya menerka darimana kertas berasal
tepian hutankah ?
ditempat yg sama nenek moyang kami bermuasal
*
aku juga bertanya, dimanakah secarik kertas untuk sajakmu ini tinggal ?
di batu, di sumur, di tanah ?
di hangat rahim ibu, atau di lubang tempat ruh mu nanti hijrah-kah ?
kbm, 050111
tepian hutankah ?
ditempat yg sama nenek moyang kami bermuasal
*
aku juga bertanya, dimanakah secarik kertas untuk sajakmu ini tinggal ?
di batu, di sumur, di tanah ?
di hangat rahim ibu, atau di lubang tempat ruh mu nanti hijrah-kah ?
kbm, 050111
Monday, April 20, 2009
Monolog
Saya benci mati lampu..
saya benci saat kata-kata sembunyi di kegelapan selasar bawah kasur
Saya benci warna tembok yang biru
warna biru yang selalu bisu, selalu ungu
Saya benci siang hari..
saat mentary datang pergi di sebalik jalan setapak kaki dan kaki
Selasar bawah kasur bukan tempat mengadu kalimat-kalimat atau mantra yang sekedar lewat
Karena itu saya benci..
Saya benci hujan..
menurut awan hujan hanya milik orang-orang aneh
karena awan tidak pernah senang menjadi mendung
Saya benci kopi..
larutan hitam serta manis buatan tangan
lalu 20 kali jampi putaran kearah kiri
getir
melawan waktu
Endapan huruf dan simbol yang tak pernah tercatat memang seharusnya disapu hujan
agar kopi yang saya benci tidak semakin terasa pahit
Saya benci kamar mandi..
benci ritual yang sama setiap pagi
sedang air tak pernah memberi sepotong isyarat pun tentang warna hatinya
apakah dingin atau hangat
Saya benci tidur malam..
tidur tanpa sempat mencatat semua kalimat
lalu bangun pagi bersama ramalan cuaca yang itu-itu saja
Saya benci selain puisi..
selain ruang-ruang sunyi
kbm, 240409
saya benci saat kata-kata sembunyi di kegelapan selasar bawah kasur
Saya benci warna tembok yang biru
warna biru yang selalu bisu, selalu ungu
Saya benci siang hari..
saat mentary datang pergi di sebalik jalan setapak kaki dan kaki
Selasar bawah kasur bukan tempat mengadu kalimat-kalimat atau mantra yang sekedar lewat
Karena itu saya benci..
Saya benci hujan..
menurut awan hujan hanya milik orang-orang aneh
karena awan tidak pernah senang menjadi mendung
Saya benci kopi..
larutan hitam serta manis buatan tangan
lalu 20 kali jampi putaran kearah kiri
getir
melawan waktu
Endapan huruf dan simbol yang tak pernah tercatat memang seharusnya disapu hujan
agar kopi yang saya benci tidak semakin terasa pahit
Saya benci kamar mandi..
benci ritual yang sama setiap pagi
sedang air tak pernah memberi sepotong isyarat pun tentang warna hatinya
apakah dingin atau hangat
Saya benci tidur malam..
tidur tanpa sempat mencatat semua kalimat
lalu bangun pagi bersama ramalan cuaca yang itu-itu saja
Saya benci selain puisi..
selain ruang-ruang sunyi
kbm, 240409
Friday, June 13, 2008
Buku Catatan
/ I /
Tak bisakah datang halaman pertama buku itu
Walau tinta penanya telah hitam kelabu
Namun ceritanya masih sesamar masa lalu
Satu tokoh dan adegan paruh waktu
Tampaknya rusak juga katakata yang ada di kepalanya
Tenggelam di arus racau para manusia
Lalu bagaimana tinta bisa mengadu pada waktu yang dungu ?
Masih kusimpan seserakan kertas yang bercerita
Jadi rahasia...
/ II /
Selembar kertas putih bergaris
Menyimpan cerita selelah hari ini
Nanti kucarikan nomor halaman baru baginya
Agar jadi penambal kusam buku itu
Kutu kampungan itu menggigiti sampul bukuku
Mulutnya penuh tinta warna hitam kelabu
Halaman pertamanya dirobek paksa ditengah cerita
Jadi janggal...
Cerita ini berawal dimana ?
Masih kusimpan halaman terakhir buku itu
Tetap putih tanpa warna...
cLp, 110608
22.47
Tak bisakah datang halaman pertama buku itu
Walau tinta penanya telah hitam kelabu
Namun ceritanya masih sesamar masa lalu
Satu tokoh dan adegan paruh waktu
Tampaknya rusak juga katakata yang ada di kepalanya
Tenggelam di arus racau para manusia
Lalu bagaimana tinta bisa mengadu pada waktu yang dungu ?
Masih kusimpan seserakan kertas yang bercerita
Jadi rahasia...
/ II /
Selembar kertas putih bergaris
Menyimpan cerita selelah hari ini
Nanti kucarikan nomor halaman baru baginya
Agar jadi penambal kusam buku itu
Kutu kampungan itu menggigiti sampul bukuku
Mulutnya penuh tinta warna hitam kelabu
Halaman pertamanya dirobek paksa ditengah cerita
Jadi janggal...
Cerita ini berawal dimana ?
Masih kusimpan halaman terakhir buku itu
Tetap putih tanpa warna...
cLp, 110608
22.47
Subscribe to:
Posts (Atom)