Sunday, May 29, 2011

Akan Tetap Seperti Itu Aku Mencintaimu

:eya

Aku terus berlatih menatap gambarmu
jadi jika suatu saat engkau sempat
mengirimkan selengkung senyum, aku sudah tak perlu lagi
mengukur jarak antara geletar dadaku, dengan manis aroma tepi pipimu
Kau tak pernah mengenakan gincu apapun,
atau parfum apapun. Kau tak perlu mengenakan
gaun katun atau sepatu merah marun,
sebab di matamu aku bisa menangkap
berbagai cahaya berbagai warna,
bahkan yang belum bernama sekalipun.

Kau tau? dalam waktu tujuh tahun tujuh malam
aku telah terserang racun yang kau semaikan
di padang ilalang hijau, luas dadaku.
Sehingga aku harus selalu mabuk kepayang saat berusaha memburu
sekelumit bayangmu. kau memaksaku menjadi pemburu
yang tersesat, jauh ke hutan hikayat.
Dengan hikmat kususuri punggung misteri dan rimbun
untai rambutmu, sampai jatuh aku ke serasah basah
tanda mata air dari air matamu.

Terang
Oh, betapa kau lihat benderang itu milikmu.
Seperti semua nyala lampu di alun - alun Reykjavik
mengantarkan apinya bagimu, menghidupkanmu.
Lalu dengan sekelumit senyum, kau kirim
cahaya - cahaya lampu itu melalui tepi pipimu yang begitu merah muda.
Kau tak lupa kan kalau aku ini pemburu?
Pemburu yang terlanjur mabuk kepayang mencecap
aroma manis bisa perawan.

Bila saja kau tak terbit pagi ini,
namamu tetap mentary,
dan akan tetap seperti itu aku mencintaimu.

kbm, 290511

Thursday, May 26, 2011

Insomnia

Tancapkan sebilah tajam pisau ke dadaku saat ini juga !
atau aku harus terbunuh badai air mata
dan kau musti basah kuyup menguburku di tepi kota Roma
*
Tenggelamkan (atau jatuhkan) aku ke kedalaman Bermuda saat ini juga!
atau aku akan hangus terbakar seluruh cintamu yang nyala
dan kau akan tertawa, saat angin utara menggiring jasad abuku kelana menuju Bratislava

kbm, 250511

Kota Burung Hantu

:M. Ayub (kupenuhi requestmu. . :D )

Tangannya seperti mengepal kearah langit malam minggu, sambil kemudian ia berseru: "Ledakan kota ini, karena sebentar lagi aku akan singgah ke Tokyo!"
Dalam gegap itu, ia yang sejak dulu belum pernah bertanam bunga pun berteman rumpun kana, tiba - tiba menarik selimut seluas bentang sajadah kearah kami, melingkarkannya ke kerumun kami.
Kami ikut tertawa, saat matanya yang hitam legam ia timbul tenggelamkan, lembung lengkungkan, seraya menyigi keripik kentang dan sebotol pepsi soda.

Kami merobohkan dinding jemu, malam minggu itu.
ia yang selalu mahir baris berbaris dan membaca bujur garis, memimpin pasukan kami.
Tangannya mengepal paling tinggi di langit malam hari.
Dan setelah beberapa jengkal tawa, ia sekali lagi berseru:
"Terimakasih jagung yang agung, setelah kau terebus, lapar kami akhirnya terhunus!
Terimakasih rumput yang maha hijau, kau sudah membangunkan untuk kami taman yang serupa megahnya seperti taman di Babylonia!"

Lalu pertempuran kami tamat, setelah malam benar - benar mulai mengeluh lelah kepada nyala lampu di taman itu, arena perang kami. Kami berlalu, kami berpamitan kepadanya supaya kereta mesinnya lancar mengantarkan ia mengadu ke rumah ibu lagi. Untuk mulai bersiap melanjutkan perang dengan kantuk, seterunya yang abadi.

kbm, 240511

Tuesday, May 17, 2011

Berburu

Baiklah
Kali ini aku akan melepaskanmu
Karena sorot tajam mata itu telah
memburuku selama berminggu - minggu
(seingatku itu bermula pada februari lalu)

Dan dengan segenap runcing kuku,
runcing taring perunggu dan bola mata ungu
(kumpulan senjata paling berbahaya ada padamu !)
Kau petakan waktu ke dalam otakku
Kemudian kau menjelajah ke luas dadaku
dada remaja yang telah menghimpun luas dosa
Menampung sekolam air mata
Tepat disana, tepat di rongga dada itu
kau tebarkan tiga ekor berudu muda
Supaya lebih leluasa melumpuhkan hatiku,
memadamkan merah jantungku

Dihangat bilik dada, ketiga berudu itu belajar cara menipu
Mereka cerdik sekali ketika mengarang cerita rancu
Tentang api mahabiru yang tumbuh menyala disekelilingmu
Namun, kau sungguh tak pernah menyadari
bahwa mereka hanya akan hidup tiga purnama saja
lalu mereka mati, hancur sendiri (di akhir april lalu)

Baiklah
kali ini akan kubiarkan kau membuangku
Sebab aku manis yang benar - benar telah alah oleh sepah
Dan kantung mataku benar - benar sudah penuh jelaga
Sembab oleh airmata
Karena itu pergilah
Piuh sendiri laparmu
Mangsa sendiri buruan baru
(jadilah singa, jadilah serigala)
Sebab kau memang tak pernah tahu,
Bagaimana namamu terpahat di sebuah batu
Hijau
Jutaan tahun lalu

kbm, 190511

Friday, May 13, 2011

Petir !

Kini kau tak percaya pada nasib buruk
Sebab sepanjang perjalanan kau selalu mengantuk
Dan di dengkur tidurmu kau terus bergumam: Petir ! Petir !
( Dalam cuaca yang kalut, kau basah kuyup )
Namun hujan angin urung menelanjangi tubuhmu yang licin,
yang terlanjur dingin

Lewat gemuruh cuaca, kau belajar membaca kitab - kitab tua
menelaah makna, menelisik sekumpulan mendung
yang membawa serta garam ( serta sisa pepat udara )
Ke atas ranjangmu,
ke dalam riuh dengkurmu

Di gigil dingin itu kau menanti akhir cerita
Sedepa demi sedepa
Bila kau mau, bisa saja kami bawakan kilat terlesat
agar kau cepat sampai disana ?
Tapi berhati - hati lah pada sengat nakalnya
yang kadang susah ditaklukan, namun bermanfaat juga
Supaya kau tak pernah lepas dari ikatan dengan kitab - kitab tua mu
Supaya yang kau sigi dapat berguna,
kelak suatu pagi, di kemudian hari

Di ujung subuh yang basah itu kau menanti akhir cerita bahagia
Sebab kau percaya bahwa nasib buruk itu memang tak ada !

kbm, 130511
.