Wednesday, May 30, 2018

Bermain Hujan

Betapa canggung kita mencoba saling eja
Engkau dengan kalimat-kalimat mu,
sementara aku membawa rindu
Kita berdua berdiri di depan pintu
namun tak jua melangkah masuk
Hanya kedua bibir kita saja yang bertemu
dalam keheningan penuh ajuk

Kemudian kita membaca gerimis yang turun tiba-tiba
sambil berlarian diterpa hujan tanda baca
Kita pun basah kuyup,
sedangkan gemuruh mendung terus bergelayut di puncak punggung kita
Air mengalir pada rumput dan batu-batu
membasahi hening matamu,
serta menggenang di bilik dadaku
Begitu deras hujan turun lekas
aku bersyukur sembab mataku jadi tak terlihat olehmu

Mari, kita main hujan sama-sama!

sdj, 310518

Monday, May 7, 2018

Ladang Luka

Telah disusuri nya luas ladang
licin lumpur pematang
Tak bosan-bosan ia singsingkan
celana panjang. Supaya noda tanah
tak kering di kakinya

Betapa sabar ia menunggu
masa panen dalam terik kemarau
sambil bedoa agar hujan sudi
mampir. Semendung demi semendung
serintik demi serintik
mengirim ricik air, mendenyutkan kehidupan
Berharap benih membesar lekas
diayun tembang tangisan hujan

Ah!
Ladang luka,
perih tumbuh subur disana
dihinggapi haru yang menghijau
Kesedihan tak tertahan yang tertanam
di seluas pelupuk mata
     Ah!
     Pedih hati diketam duka
     benih rasa yang menguning tua
     Samsara sepanjang usia

sdj, 040518

Mengingat

Waktu yang ditentukan hampir tiba
Bulan terbelah jadi dua
kita bolak-balik berlarian
dalam titik dan koma
     Ingatkan aku,
     ayat mana saja yang harus kubaca tiap senja
     Akupun akan setia berpesan kepadamu
     perihal surga dan neraka
     (Nanti nya kita tinggal dimana?)

Ingatkan pula aku,
tentang subuh, dzuhur, ashar, maghrib, isya
sebagai gantinya, akan aku bangunkan engkau
saat malam tinggal tersisa sepertiga
Lalu kita akan bersama-sama mengambil air wudhu
dalam gigil dingin
Hingga dingin itu terserap sampai tulang kita
Dan kita tak lagi peduli,
terhadap dunia yang kita tinggali

Mari kita bersujud
meluruh ke keheningan paling ufuk
melepas lelah kita dari dunia yang sementara
     Mari kita mengingat
     untuk apa kita dicipta sesungguhnya
     bukankah hanya untuk mengibadahi-Nya saja, bukan?

sdj, 010518

Friday, May 4, 2018

Waktu

Derak decit jam dinding membisikan waktu
lengan nya yang kurus terayun lurus terus
tak nampak hendak berhenti melaju
barang sedetik, atau sedetakan
Nampaknya memang tak ada yang mampu membuatnya berhenti maju

Umur yang terus berlalu
bertambah lurus terus
bersama jarum waktu
tak ada pula yang dapat berjalan balik ke arah masa lalu
atau mencoba istirahat dari kejaran detik yang berlarian
hingga satu persatu nanti
saatnya tiba

Hanya sebentuk puisi kita catatkan sebagai epitaf,
kenangan pada batu nisan

jasad-jasad akan pergi
waktu tetap akan terayun berlari, berlalu melaju
ingatlah,
kepada siapa kita akan siap kembali

sdj, 040518