Showing posts with label Bertemu Musim. Show all posts
Showing posts with label Bertemu Musim. Show all posts

Monday, May 7, 2018

Ladang Luka

Telah disusuri nya luas ladang
licin lumpur pematang
Tak bosan-bosan ia singsingkan
celana panjang. Supaya noda tanah
tak kering di kakinya

Betapa sabar ia menunggu
masa panen dalam terik kemarau
sambil bedoa agar hujan sudi
mampir. Semendung demi semendung
serintik demi serintik
mengirim ricik air, mendenyutkan kehidupan
Berharap benih membesar lekas
diayun tembang tangisan hujan

Ah!
Ladang luka,
perih tumbuh subur disana
dihinggapi haru yang menghijau
Kesedihan tak tertahan yang tertanam
di seluas pelupuk mata
     Ah!
     Pedih hati diketam duka
     benih rasa yang menguning tua
     Samsara sepanjang usia

sdj, 040518

Wednesday, January 17, 2018

Seperti Akar Pada Hatimu

Pada akar beruntai sungai
pada riak kecipak gelombang
ikan mengetuk pintu
pada dadamu

Pada kepak buih busa
suaramu meluncur ke angkasa
seperti huruf. Tegak.
melantunkan spasi dalam ruang
penuh bintang, penuh matahari, penuh planet-planet,
penuh perut-perut lapar didera
badai tiada jeda
pada tengkuk yang merinding
gelombang sungai meluncur jatuh
ke bimasakti yang sedang ku pegangi
ikan-ikan berdiri
menyaksikan nasib terpental keatas
melayang. Terpintal pada galaksi yang jauh

Kita bersama-sama menyaksikan waktu
sambil berbaring
pada tempat yang bernama entah apa
aduh!
betapa waktu adalah huruf-huruf lapar
yang merengek minta di nina bobo
sambil disusui
     susu itu, sejak kapan menyembul
     dari bidang dadamu?

Sekeping logam berdenting
di ujung ruangan tak berpintu
kita saling berpagut malam itu
saling berteduh di tepian
sungai kita masing-masing
pada licin kulitmu yang bening

Pada mata
segala hal bermuara
termasuk sekerat dosa
Namun pada bibirmu
hatiku tertambat sangat erat
terbelit seperti akar
pada hatimu

sdj, 130118

Saturday, June 18, 2016

Buku Usia

Buku itu, sudahkah selesai kau baca?
Sudahkah terbuka di halaman ke berapa?
Adakah kalimat yang perlu kau hapus,
atau malah ingin kau tulis ulang,
jadi cerita perang,
atau roman abad pertengahan, mungkin?

*

Umur itu, sudahkah penuh kau kembara?
Sudahkah kaki terhenti di arah yang mana?
Adakah sejarah yang perlu kau rubah,
atau masa lalu yang kau mau,
sangat ingin berbenah,
mimpi waktu kecil,
atau pohon teduh tua mata kali, mungkin?

kbm, 200915

Friday, August 7, 2015

Hutan Milik Ibu

Dimana aku dapat membeli waktu?
atau kata-kata yang bisa kutempel pada dinding kamarku
Padahal pohon-pohon tua telah tumbuh dibalik punggungmu
Seperti lumut

Aku melihat asap tebal dari punggungmu yang terbakar
Seperti hutan milik ibuku,
yang sudah kehilangan kayu dan beribu-ribu
kenangan tentang masa lalu
Dari mulutmu muncul api
Sebab itu kau harus pandai menutup mulut
agar kebakaran tak dapat melahap waktu
yang sudah susah payah kau tukar dengan kata-kata

Kata-kata ku seperti lumut,
menempel ke pepohonan, dan memberikan keberanian
Seperti doa
Doa dariku untuk ibu
Untuk hutan miliknya, juga tanah serta akar dibawahnya
Semoga seluruh makhluk bumi sehat senantiasa
Hingga masa depan terjaga
Bagi semua anak cucu kita

kbm, 170415

Thursday, June 5, 2014

Bertemu Musim

Aku ingin pergi
bertemu pohon - pohon, dan bercerita tentang musim gugur
Daun - daun meliuk, mengering dan rebah
dalam diam berbaring di tanah
Kemudian tersenyum kepada angin

Aku ingin pergi
bertemu kayu bakar, dan bercerita tentang musim dingin
Ranting kecilnya berkeretak, berasap lalu lesap
dalam abu, asapnya menghambur di corong atap
Kemudian tersenyum kepada butir - butir salju

Aku ingin pergi
bertemu rumput - rumput, dan bercerita tentang musim semi
Kupu - kupu terbang, hinggap erat bersedekap
pada bunga dan taman yang basah dan sembab
Kemudian tersenyum kepada embun

Aku ingin pergi
bertemu pantai, dan bercerita tentang musim panas
Burung - burung camar menggeliat, meliuk lalu meluncur
pada lautan yang tenang, kedalam ombak berdebur
Kemudian tersenyum kepada hangat matahari

kbm, 060514

Tuesday, November 6, 2012

Pergi

:inggrid, ashar junandar, hasan aspahani

Singgah di Negeri Ajaib, yang tidak begitu ajaib saat ini
Negeri ini telah lama tak menyulam puisi
Malaikat Kecil kemana pergi ?

Padang Ilalang Belalang, kini tak lagi basah
Embun kata telah lama berhenti jatuh rebah
Belalang hilang, menyusul musim kah ?

Dan kini tak lagi kami temui Sejuta Puisi
Hanya halaman kosong, tempat singgah sepi
Lalu, dimana kami musti pergi memungut arti ?

kbm, 070812

Tuesday, September 18, 2012

Aku Ingin Pulang Bersama Mu

Aku ingin pulang bersamamu saat hujan datang. Lalu akar-akar pohon dibawah kaki kita akan menjadi basah dan lembab. Ceritakanlah padaku, bagaimana kau bermimpi tentang pepohonan dan taman bunga ! Telah lama sepertinya, aku tak pernah merasa bermimpi yang sehidup itu. Karena malam selalu datang tiba-tiba, dan wajah bulan pucat selalu menyergap kereta kuda pembawa dongeng serta mimpi kita. Aku ingin pulang bersamamu saat itu.
*
Jalanan kembali basah dalam hujan. Lembab. Langit menghitam lekat. Sudah sekian bulan berlalu tanpa aku melihat senyum manis mu saat berjalan bersamaku. Hanya jejak sepatu mu yang tersisa, direkam bayangan langkah mu sendiri. Ditemani kabut tipis, cuaca tak bernama yang memanggil manggil nama kita dalam tidurnya.
Aku sendiri berteman bayangan.
Jalanan sepi.
Akar pohon terlelap mimpi.
Aku ingin berjalan pulang bersamamu malam ini.

smg-kbm, 270812

Tuesday, February 28, 2012

Pemakaman Hujan

Pagi bukan alasan untuk tidak menguburkan jasadmu, hujan.
Apakah aku tidak cukup dengan menjadi hanya pelayat biasa bagimu ?
Sebab dalam jejak seberapa jejakmu,
aku selalu menemu sehamparan sajak, kehampaan sejak.
Seolah - olah kau telah lama belajar berjalan melawan mendung,
berintik - rintik serupa sore hari.

Pagi hari ini, hujan, ku kuburkan dingin sendirian.
Aku tahu, dingin itu pasti temanmu.
Sebab dia sering meninggalkan jejak yang sama sepertimu di licin kulitku, di hening sajak - sajakku.
Begitu pun kau tahu, hujan, larik - larik sajakku sering beku dan kelu di dalam dingin.
Hingga pintu - pintu kayu, gerbang buku catatanku suka berdecit setiap ku buka tutup,
setiap hendak kucatatakan perjalanan rerintikmu.

Aku menghadiri pemakamanmu pagi ini, hujan.
Kau disemayamkan di rumpun bunga kali ini, rumpun yang penuh rindang warna.
Tidakkah kau rasakan hujan,
kematian itu indah !
Selalu penuh rima saat kau berjumpa tanah.
O, menghilang gelisah !
Lalu, setelah kuletakan rampai bunga di sebelah batu nisanmu,
aku berdoa semoga selalu cukup waktu bagiku untuk menuliskan riwayatmu.
Menceritakan sajak - sajak baru.

Di pemakamanmu pagi ini, hujan,
serangkai kata basah kuyup kusimpan.

kbm, 280212

Monday, June 6, 2011

Musim Gugur

Musim gugur mulai tiba, namun serangkai bunga dandelion di tepi Alabama akan tinggal sementara waktu untuk menunggu hembus terakhir angin penghujung musim pulang kembali ke rumahnya di kehangatan utara.

Serombongan belalang resah melihat perangai angin yang semakin lama semakin tak bersahabat sebab mereka belum merasa puas mengarung jelajahi taman musim semi, namun musim sudah terlanjur gugur dan perlahan kembali bertiup ke utara menjadi jalan pulang bagi cuaca.

Musim gugur tahu, bahwa dandelion akan berjaga sepanjang waktu hingga kelopak terakhir mereka beriring pulang tertiup hembus hangat angin dari utara.

Para belalang ragu, cuaca semakin gugur manakala mereka harus pulang beriring musim dan waktu sementara angin semakin utara berhembus hangat bersama sahabat dandelionnya.

Musim gugur mulai tiba, saat kelopak-kelopak angin utara terhembus hangat oleh dandelion terakhir di padang ilalang belalang di tepi Alabama.

kbm, 010611

Thursday, May 26, 2011

Kota Burung Hantu

:M. Ayub (kupenuhi requestmu. . :D )

Tangannya seperti mengepal kearah langit malam minggu, sambil kemudian ia berseru: "Ledakan kota ini, karena sebentar lagi aku akan singgah ke Tokyo!"
Dalam gegap itu, ia yang sejak dulu belum pernah bertanam bunga pun berteman rumpun kana, tiba - tiba menarik selimut seluas bentang sajadah kearah kami, melingkarkannya ke kerumun kami.
Kami ikut tertawa, saat matanya yang hitam legam ia timbul tenggelamkan, lembung lengkungkan, seraya menyigi keripik kentang dan sebotol pepsi soda.

Kami merobohkan dinding jemu, malam minggu itu.
ia yang selalu mahir baris berbaris dan membaca bujur garis, memimpin pasukan kami.
Tangannya mengepal paling tinggi di langit malam hari.
Dan setelah beberapa jengkal tawa, ia sekali lagi berseru:
"Terimakasih jagung yang agung, setelah kau terebus, lapar kami akhirnya terhunus!
Terimakasih rumput yang maha hijau, kau sudah membangunkan untuk kami taman yang serupa megahnya seperti taman di Babylonia!"

Lalu pertempuran kami tamat, setelah malam benar - benar mulai mengeluh lelah kepada nyala lampu di taman itu, arena perang kami. Kami berlalu, kami berpamitan kepadanya supaya kereta mesinnya lancar mengantarkan ia mengadu ke rumah ibu lagi. Untuk mulai bersiap melanjutkan perang dengan kantuk, seterunya yang abadi.

kbm, 240511

Friday, May 13, 2011

Petir !

Kini kau tak percaya pada nasib buruk
Sebab sepanjang perjalanan kau selalu mengantuk
Dan di dengkur tidurmu kau terus bergumam: Petir ! Petir !
( Dalam cuaca yang kalut, kau basah kuyup )
Namun hujan angin urung menelanjangi tubuhmu yang licin,
yang terlanjur dingin

Lewat gemuruh cuaca, kau belajar membaca kitab - kitab tua
menelaah makna, menelisik sekumpulan mendung
yang membawa serta garam ( serta sisa pepat udara )
Ke atas ranjangmu,
ke dalam riuh dengkurmu

Di gigil dingin itu kau menanti akhir cerita
Sedepa demi sedepa
Bila kau mau, bisa saja kami bawakan kilat terlesat
agar kau cepat sampai disana ?
Tapi berhati - hati lah pada sengat nakalnya
yang kadang susah ditaklukan, namun bermanfaat juga
Supaya kau tak pernah lepas dari ikatan dengan kitab - kitab tua mu
Supaya yang kau sigi dapat berguna,
kelak suatu pagi, di kemudian hari

Di ujung subuh yang basah itu kau menanti akhir cerita bahagia
Sebab kau percaya bahwa nasib buruk itu memang tak ada !

kbm, 130511
.

Tuesday, April 26, 2011

Di Gilimanuk

Di hiruk pikuk Gilimanuk
Arus selat Bali sibuk mengantarkan kapal-kapal fery pulang pergi
Mengantarkan kabar, cerita dan janji
Bali – Jawa – kembali ke Bali lagi

Betapa benci kami kepada pelabuhan !
Seperti benci kami pada perpisahan
Yang tak pernah kami yakini kapan akan kembali terjadi pertemuan
Kapan lagi kami menulis cerita tentang kisah sebuah perjalanan ?
Kapan kami akan berjanji,
Kepada tenang gelombang Gilimanuk lagi ?
Kapan arus selat ini akan menyeberangkan kami kembali ?
Ke Bali

Gilimanuk – Ketapang, 240411

Perjalanan

Rupa arca batu menjelma hatimu
Yang senantiasa sendu, senantiasa bisu
Mungkin butuh sebuah upacara, atau sesaji khusus bila hendak mendekat
Harus ku bakarkan tujuh rupa dupa yang meruapkan seribu wangi bau cahaya
Lalu dalam hening sembahyang itu engkau akan berlalu,
menyeberangkan hatiku kembali ke tanah jawa

Di desir bibir pantai kuta,
desir dadaku seperti ingin menyatu dengan sukma Bali
Sukma jernih buih ombak biru laut dan putih pasir pesisir
Sukma serupa seperti sukma mu yang misteri
Yang membawa seribu hati ombang-ambing di tepi pantai
Bukan kuta, bukan sanur, pun dreamland
Namun pantai mu
Di biru hatimu

Di puncak
Rancak tetarian Kecak menghentak
Mengusik ragu hati pilu sunyi
Bisu patung Wisnu yang moksa tembaga,
menatap pelatarannya kembali ramai oleh sendratari
Dan, sepertinya aku sempat menangkap sorot mata sang garuda
Sorot serupa yang pernah ku temukan di matamu
Sorot teduh biru, mata anggun ungu
Kau tancapkan mantap di lubuk dada ku jutaan tahun lalu
Sementara jasad ku, kau kutuk kedalam gelap abu
Namun benarlah bahwa cerita tentang mu itu memang rahasia
Selalu lesap dalam ruap dupa cahaya
Selalu hanyut mengalir di desir gelombang sore pantai kuta

Bali, 240411

Tuesday, February 24, 2009

Kidung Tidur

Biasanya kami menyerah setelah semua malam kami lelah dan berseru ingin terlebih dahulu tetirah yang kami anggap sebagai waktu untuk hinggap di pagi-pagi yang senyap hingga kami hiraukan setiap tik-tok jam ataupun warna-warni dinding kamar tempat badan tubuh malam kami rebah sedang kemarin hari kami berjalan di tiap undakan tanah sewarna merah berumput hijau dan cahaya kami kuning mentari sembari mencari apa yang halal bagi hidup serta tidur kami seperti arus angin dan air kali yang terbang mengalir mengikuti matahari di sela-sela musim-musim yang berganti dari gugur menjadi semi lalu panas menuju dingin yang tak bertepi sedemikian sunyi segelap malam kami saat hendak membangun para mimpi ataupun dinding berjam tik-tok di kamar warna-warni kami namun perlahan kami mulai meraba dinding untuk sebuah tidur yang masih terlalu pagi.

kbm, 240208
23.00

Tuesday, May 13, 2008

Di Tepi Jalan Kala Itu

: apakah kita pernah berkenalan ? :

Menyusuri lembar itu dalam titik dan koma
Antara rautan kata – kata yang dijengkal spasi setiap incinya
Berakhir urutan itu dengan tanda tanya
Memilukan bingung yang sibuk mengubur nyala lampu

Lagu itu menghambur saja tanpa permisi
Naiki tangga, loncati batu kali...

Maaf...
Lagu itu memang penuh dosa tiap liriknya
Semakna uap yang membangkangi matahari
Tapi batang pena itu hanya hendak berpuisi
Mencatat memoar 6 mm masa kelana
Daripada terbiar mati di lembar terakhir
ditemani jazad sepi...

Kita serupa wajah sumringah si kembara
Di tepi jalan kala itu senja
Membungkus waktu dengan kamera
Mencetaknya, lalu kita pajang di pigura emas dan kaca
Di tepi jalan kala itu hujan
Tempat para nyawa lalu lalang berbagi cerita
Menggambar sketsa satu hari diriuh kotamu
Dan aku ingat satu kata di beranda keraton itu
Tertulis: ”dilarang melupakan !!”

06.14 Clp, 140508
untuk bukansiapasiapa

Monday, May 12, 2008

Mengapa harus..

: Sesering apa meminta maaf pada orang yang sama
Sesering apa meminta maaf pada kesalahan yang sama
Sesering apa meminta maaf pada orang yang sama
Dengan kesalahan yang sama :

Mengapa harus sesering itu ??
Mengapa harus sesalah itu ??
Mengapa tidak lebih baik menunggu
Kakimu yang bersepatu
Bersijingkrak menuju waktu
Karena sebentar lagi malam akan kedinginan
Oleh angin yang ditiup tengkuknya sendiri

Jadi inilah dia sodari
Sering saja kita bercanda dengan kegagalan
Kesalahan, kekeliruan, kekecewaan, keabsurdan
Di pembaringan tempat batu pun riak
Tempat jangkrik menyalak
Menghindar dari kodratnya...
:Mengerik

Namun kau masih tetap bukan siapa siapa
Milik semua sodaramu di langit pertama
Kedua, ketiga sampai ketujuh tangga
Sampai tak terhingga
Sayangnya mereka lebih sering berpetak umpet
Dalam dinding kerucut penuh lumut

Mengapa harus sesering itu ?
Mengapa harus sesalah itu ?
Kau memang tercipta bukan siapa siapa
Aku pun bukan apa apa
Lalu mereka bukanlah kumpulan mengapa
Namun kita masih satu makna
Sodari dan sodara

02.29 AM
Clp 130508

untuk bukansiapasiapa