Showing posts with label Lanskap Waktu. Show all posts
Showing posts with label Lanskap Waktu. Show all posts

Wednesday, April 8, 2020

Hitam Tebal

Mungkin ini lah saatnya
menebalkan hitam pada sekeliling dinding
ruang kamar

menabur kantuk ke sela-sela tengkuk
serta mengusir segala mimpi buruk

Setiap permulaan akan bertemu akhiran
sepenuhnya berlalu dalam remang redup
untuk kemudian berjumpa terang kembali

Sebuah hari yang lain

kry, 090420

Monday, August 5, 2019

Seperti Kertas

Bergalon-galon kafein telah meracuni
tengkukmu kemudian nyeri meruyak
ke sela seluruh kepalamu malam itu
mari sedikit berdamai dengan waktu,
kemudian berjalan kembali ke
sebuah ruang penuh bekas-bekas ingatan
yang telah berlalu

Kepak sayap kertas
kupu-kupu menyerbu malam yang tertidur pulas
Bagaimana lagi dapat kau temukan kantuk
dalam bimbang dan gamang yang meluas?
Dialun ketukan ritmis jam yang berdentang
cemas menyerbu dada mu
Perih. Terhantam debur galaksi
keheningan tak bertepi

Maaf, aku harus menyampaikan padamu
bahwa cinta seperti kertas
yang senantiasa terbakar, membara tanpa sebab yang jelas
Jadi kau sampaikanlah padanya
tentang hati yang legam. Terjerang cinta yang penuh bekas ingatan
serta ratapan

Kry, 030719

Friday, May 4, 2018

Waktu

Derak decit jam dinding membisikan waktu
lengan nya yang kurus terayun lurus terus
tak nampak hendak berhenti melaju
barang sedetik, atau sedetakan
Nampaknya memang tak ada yang mampu membuatnya berhenti maju

Umur yang terus berlalu
bertambah lurus terus
bersama jarum waktu
tak ada pula yang dapat berjalan balik ke arah masa lalu
atau mencoba istirahat dari kejaran detik yang berlarian
hingga satu persatu nanti
saatnya tiba

Hanya sebentuk puisi kita catatkan sebagai epitaf,
kenangan pada batu nisan

jasad-jasad akan pergi
waktu tetap akan terayun berlari, berlalu melaju
ingatlah,
kepada siapa kita akan siap kembali

sdj, 040518

Thursday, March 29, 2018

Tetirah

Kabut menebal
Udara menggumpal
Aku duduk diantara malam
dihantar oleh dingin yang bebal

Bulan diujung gunung
hampir turun purnama
Tepat diatas Sindoro - Sumbing
Bulan menyala - nyala

Telah kusungkurkan wajahku
dalam sekian masa
Sambil tetirah menunggu waktu
perjalanan pulang ke utara

prkn, 300318

Friday, December 8, 2017

Setiap Pagi

Kita dikandung, lahir, lalu hidup
lalu berkunjung ke bumi yang tak bisa kita miliki
selama beberapa masa
hanya beberapa masa saja
Nanti, saat telah cukup lelah usia
kemudian kita berjumpa seorang tua
Dan kita tahu akan kemana berjalan bersama

Kita lahir, hidup, lalu mati
Sesungguhnya,
kita berhutang budi pada Pencipta kematian
setiap pagi

sdj, 231117

Friday, November 4, 2016

Pelaju

malam terlarut di pekat kabut
dalam sujud antara roda dan aspal jalan raya
bibirku berbisik. membisikkan doa kepada malam yang luas
kepada dingin yang turun lekas

apa yang melaju tapi bergeming?
apa yang terhenti namun melesat melengking?
adalah kalimat
sajak paling hikmat
kepada nya aku terus bertirakat
mengusir kantuk yang terlanjur memberat

pelajaran ini bernama perjalanan
bagi kaum ku: perantau bintang
besok pagi kami harus tetirah
sebagai sekawanan lebah
doa kami berterbangan ke penjuru angkasa
bertebaran ke bunga-bunga
penuh pheromon, licin meluap dengan manis cinta

ku tempuh seluruh dingin tebal ini
menyusuri kelam pagi
meluruhkan jalan sepi
membawa pulang hati sendiri

tmg, 051116

Tuesday, November 1, 2016

Adalah

Adalah ratap, yang selalu kami tuai
pada luas pematang kami
Liar. Bagai ilalang
selalu tumbuh dan tumbuh
Hingga hati kami tak pernah bernas
sering cemas

Adalah gamang, yang selalu ditembang
pada luas selasar kami
Halaman rumah yang tak tertata rapi
Sumbang. Berkelontang
Kami simpan dalam rantang
rentang waktu yang menjemukan
Hingga mata kami tak pernah pejam
sering buram

sdj, 220616

Ingin

Ingin ku luruhkan malam minggu
Sirna. Angin luka membisu
Dalam jalan panjang penuh kerikil batu
     Batu? Bukankah jejak kaki
     saja yang menghancurkan?

Ingin ku luruskan bengkok tulang
Ngilu. Daging mengerang membiru
Dalam jalan panjang penuh degil debu
     Debu? Bukankah keras hati
     saja yang mengacuhkan?

Ingin ku sirnakan ngilu
hancurkan?
acuhkan?

sdj, 210616

Wednesday, December 3, 2014

Mengapa Engkau

Mengapa engkau berteman dengan jarak?
Sedangkan dia selalu memisahkan cintamu
dengan engkau
Dalam ruang yang remang hampa
Kau mengukur kota, pada peta yang buta
*
Mengapa engkau bermain bersama waktu?
Sedang cinta dan dia sering tak bertemu
dengan engkau
Dalam waktu yang salah kira
Kau menakar asmara, pada cinta yang buta

kbm, 010914

Wednesday, November 12, 2014

Aku Telah Kehilangan Waktu

Aku telah kehilangan waktu
detik - detik yang cepat berlalu
Bahkan, aku tak sempat mengubur menit- menit yang mati
atau menarik kafan bagi jasad jam yang menghitam
aku hanya diam

Gunung. Lembah. Padang rumput.
Basah tanah berkabut
Aku mau pergi, diiringi rembang matahari
Namun hari sudah terlanjur pagi
Dan perahu di danau sedang terlelap dalam mimpi
Bermimpi gunung, lembah, padang rumput
Aku dilarung kabut

Aku telah kehilangan waktu
Jam - jam berputar tanpa henti
Hari sudah hampir pagi
aku terlanjur tahu
tidur malam adalah hal yang paling sia - sia
waktu bagiku tinggal sisa - sisa

Aku ingin terpejam di lembah di gunung
Aku mau bermimpi berbaring di padang rumput

kbm, 130514

Thursday, August 15, 2013

Minggu

Telah begitu jauh menyelam
Aku menyusur ke dasar malam
Jauh lebih dalam
Warna – warna kelam
Sejarah hijau pualam

Aku bahkan tak mengetahui
Ini hari telah pagi
Lalu kapan aku bertemu kantuk ?
Permulaan yang abadi

smg, 080613

Kabut

Rintik jam pasir adalah kesunyian paling lindap
Suara hujan gemercik berhamburan
Desau desir angin gemersik kehampaan
Jadilah asap.

Engkau selimut tebal bagi malam
Aku kabut tipis dingin melingkar

smg, 2013

Bayangan

Kita berjalan berdua
Di sebuah kota, di tepi stasiun, ditengah taman
Dengan telanjang kaki, menyusuri setapak sunyi
Malam yang lelah mengejar detak sendiri
“kita berangkat pukul 2 nanti”, katamu

Mari singgah ke menara itu,
menara waktu
Lalu kembalikan beberapa detik yang telah
kita curi kemarin hari
Sebelum roda – rodanya sempat berputar lagi,
Dan kita terlambat menghitung nyala lampunya
yang menghilang begitu lekas
Dalam sebuah sepi.

Sudah waktunya kita pergi
Ku biarkan kau berjalan sendiri
menuju bayangan yang lain di ujung lorong itu
Sedang aku, menunggu pintu
bagi kekasihku

smg, 240513

Wednesday, June 13, 2012

Dalam Sedepa Waktu

Apa yang terjadi, mengapa waktu tinggal sedepa ?
Angin begitu renta
Hari beranjak menua

Apa yang akan terjadi dalam waktu yang tinggal sedepa ?
Kenangan akan berlarian
Lukisan lukisan berkejaran
dengan hujan
Bumi hilang perlahan

Waktu benarbenar sudah tinggal sedepa
Malam melarut kabut
Bayang bayang hanyut
Bertemu maut

Kbm, 090512

Wednesday, December 7, 2011

Rambu - Rambu

Jangan pernah menyeberang, jalan ini begitu ramai !
duduklah saja disitu sambil sesekali boleh juga kau berharap,
bahwa suatu saat nanti jalan ini lengang dan kelak aku akan menyusur menyeberang.

Begitu penuh liku jalanan itu,
penuh kerikil batu.
Betapa lalu lalang serta penuh ilalang !
Oh, bagaimana engkau mampu ?

Hati - hati ! Aku pejalan kaki yang tabah,
dan aku tau bahwa kau selalu hilang arah.
Sebab itu, aku tak terlalu mampu mencintai alamatmu yang sering saja berubah.

Jangan pernah berlari kemari !
Jalanlah pelan perlahan,
ketika kau ternyata tak mengenal rambu - rambu besar yang kupasang dimuka rumahku.
Maka, kau tahu, tanda berhenti itupun selayaknya sudah cukup memberi isyarat yang pasti !

kbm, 071211

Wednesday, November 30, 2011

Sketsa Waktu

(masa lalu: )
Malam adalah sketsa yang akan selalu ditampilkan
walaupun kami benci gelap,
namun tetap saja kami tak boleh mengelak
ini inti cerita, ini lakon yang musti kita rupa
Atau apabila kami sudah mulai takut,
kami pegangan saja pada narasi kami
sumber gerak tubuh kami
tapi, kami harus selalu berhati - hati
tak ingin terjebak dingin narasi basi

Saat adegan hujan ditampilkan
hati - hati kami jaga naskah itu,
naskah narasi itu
kami dekapkan di sebalik baju
agar air hujan tidak sampai melunturkan
apa - apa saja kata yang terketik disana
karena kami tak mau kehilangan satupun tanda baca

Kami jaga narasi sketsa malam itu
sebagai masa lalu
sketsa waktu

(masa ini: )
Kami ulang - ulang apa yang narator pernah ceritakan
kami rupakan kembali narasi untuk sketsa kami sendiri
namun kali ini kami tak terlalu ingin menceritakan tentang malam lagi,
atau dingin, atau hujan lagi,
ada yang lebih menarik dari narasi milik narator kami

Dengan perlahan narator kami mulai menua,
mulai direngkuh usia
dan kami tahu, itulah alasan mengapa saat ini kami mulai menulis - nulis sendiri
Ya! kami mencetak sebuah naskah narasi
sketsa kami sendiri

Dan bukan lagi tugas kami menjaga narasi milik narator kami
tugas kami sekarang adalah menjaga para narator dari sepi
sebelum bertemu mati
sebelum dijemput umur yang uzur

(masa depan: )
Suatu hari,
kami akan mengenang narator kami nanti
mengenang narasi - narasi yang lama
atau menceritakan sketsa - sketsa lama
tentang malam, atau dingin, atau hujan pula
sebagai pengingat tentang awal mula kami
Supaya kami tak pernah lupa siapa dulu kami sebenarnya
Agar kami selalu ingat satu dialog dalam naskah lama kami
:kepada narator kami berjanji
Bahwa kami akan selalu berbagi

kbm, 281111

Thursday, February 24, 2011

Lanskap Waktu

yang tak sempat kau catat itu adalah waktu.
sejarah yang berulang-ulang, yang selalu sungsang diujung kepalamu.

yang tak sempat kau baca itu adalah pagi.
kitab-kitab yang kau sigi, rotasi matahari, lintang bujur lanskap bumi.

Friday, June 13, 2008

Sudahlah

Jalanan ini sudah terlalu jauh menempuh jarak
Tapi tetap saja kamar ini menyimpan setiap kilometernya dibalik kasur
Rapat disembunyikan dari rantai mataku
Tak seinchi pun aku pernah menemu
Rangkaian peta bentang alam kota itu

Sepertinya aku kehilangan foto siluet senja
karena mentari, bintang, bulan,
bumi, gravitasi...
Berkumpul disini
Tepat dibawah ruang hati

Jadi...
Bagaimana kota itu dan senja harus menyatu
Selaik dulu seperti asalnya
Sebelum jarakku menelan jalan berpuluh kilometer
Sebelum waktuku menelan jam biru beratus - ratus menit
Dan sebelum kamar ini memulai cerita
Tentang kumpulan umur, waktu dan jarak
Yang makin usang terinjak diinjak

Sudahlah
Aku ingin jatuh ketanah
Tanpa suara...

cLp, 110608
18.26

Thursday, June 5, 2008

Mimpi Mimpi Mimpi

Merah...
Masih kesepian disudut biru
yang tak pernah kunjung ungu
Walau terang ini putih sungguh
Sesungguh mural hijau rumput ditanah keruh

Oh iya...
Bunga itu kuning kerontang
Terbiar mati sebelum berhasil menghias ladang
Padahal dia bisa jadi violet
atau sombong seperti emas
Yang sisi empatnya berkarat erat

Didinding coklat itu malam terdiam
Sementara bayang badannya semakin kelam
Mengusir gravitasi dari lengan dan kanan
Kaki dan kiri...

Mimpi mimpi mimpi
Mengapung seribu warna pelangi,
Malaikat,
Dan gelombang udara

cLp, 010608
23.47

Monday, May 12, 2008

Pulang

Duduklah kita disini
Baris ke6 sebelah kanan
Diatas roda 4 yang rapat kita berangkat
Habiskan jarak itu ke 0
Walau bulan menggerutu dibalik kelam kelambu
Tapi malam memang jalan kita pulang

Clp – Smrg 100508