Showing posts with label Obituari Cangkir Kopi. Show all posts
Showing posts with label Obituari Cangkir Kopi. Show all posts

Monday, July 12, 2021

O Betapa!

O betapa,
dengkur waktu menggurat pada
rongga kesepian begitu berat dan dalam
dari sisa-sisa matamu yang terjaga, Tuan.

malam telah ranum
serta fajar hampir matang
pagi bakal sebentar lagi lahir kembali
keluar dari cangkang telur
dari sengal dan tebal napas ranjangmu, Tuan.

   matamu sakit tak berdarah
   bagai dicerucuk tajam jarum jam
   O betapa!

Bertahanlah, Tuan!
Seekor burung gagak tidak datang
untuk mengabarkan kematian
Ia hanya baru saja selesai mengerami telur
dan menggarami bulunya yang lebat hitam
pada ranjangmu yang kini penuh
gurat dan lebam luka
dari sisa-sisa kantukmu yang sia-sia, Tuan.

kry, 100721

Tuesday, August 13, 2019

Di Sudut

Di sudut
sebuah tempat yang tidak asing
penuh kepulan asap
minim cahaya dan redup

Di sudut
ku sesap sendiri kesendirian
terasa hangat
seperti secangkir kopi
yang mengepul

Di sudut
malam terlanjur dingin
cangkir membeku
jemu

kry, 130819

Saturday, July 28, 2018

Espresso

Dalam suhu yang telah mendidih
dan tak tertahan lagi
Kita tuangkan setakar air
ke dalam setakar malam
     Seketika itu pula kita mulai berpalun
     membelitkan hati yang gerun
     Lalu kita larut dalam subuh yang lain
     mengusir kantuk dalam dingin yang lain

sdj, 280718

Pukul Tujuh Pagi Lebih Lima Ratus Meter

Derap langkah kaki para prajurit
mungkin tak akan berhenti di tepi kota
Bayonet. Laras senapan. Degup jantung.
Klakson mobil. Kokok ayam jantan.
Aspal jalan raya berkertak menanggung
jejak-jejak para pendosa, yang tiba-tiba
berbelok pada pertigaan lima ratus meter
kemudian di depan ujung gang

Tunggu dan hitunglah, wahai pemeram amarah!
Lima menit lagi alarm pada telepon genggamku
akan berdering, berteriak nyaring
Lalu, tepat pada saat itu,
silahkanlah melepaskan tembakan peluru dari senapan mu
ke arah segala penjuru. Kota.
Saat ini tepat pukul tujuh pagi, dan udara telah bercampur
dengan aroma bubuk mesiu
Tumpat padat pada pori-pori gedung-gedung tua
Seperti penjaja kaki lima,
yang barusan saja menggelar dagangan nya
     Maukah engkau memesankan untukku
     secangkir kopi toraja?

Dalam kepulan asap yang tak henti-henti itu,
aku tak dapat membedakan antara;
aroma wangi kopi atau bubuk mesiu?
Mungkin saja di dalam mulutku kini tumbuh
sebuah lidah besi anti peluru
Dan kini aku tengah belajar mencecap
secangkir penuh kalimat palsu
yang mendidih menggelembung menghangatkan pagi
     Namun bagaimana caranya aku dapat
     mematahkan pepatah itu?
     Memang lidah tak bertulang bukan?

Pukul tujuh pagi lebih lima ratus meter
telah berapa lama aku terbangun

sdj, 280718

Wednesday, May 30, 2018

Bermain Hujan

Betapa canggung kita mencoba saling eja
Engkau dengan kalimat-kalimat mu,
sementara aku membawa rindu
Kita berdua berdiri di depan pintu
namun tak jua melangkah masuk
Hanya kedua bibir kita saja yang bertemu
dalam keheningan penuh ajuk

Kemudian kita membaca gerimis yang turun tiba-tiba
sambil berlarian diterpa hujan tanda baca
Kita pun basah kuyup,
sedangkan gemuruh mendung terus bergelayut di puncak punggung kita
Air mengalir pada rumput dan batu-batu
membasahi hening matamu,
serta menggenang di bilik dadaku
Begitu deras hujan turun lekas
aku bersyukur sembab mataku jadi tak terlihat olehmu

Mari, kita main hujan sama-sama!

sdj, 310518

Monday, February 12, 2018

Putih Abu-abu

Kita kembali belajar menyimpul dasi dalam seragam putih abu-abu
Kemudian pergi mengikat tali sepatu sambil berpamitan kepada ibu
Kita hendak mengulang waktu
ke masa lalu yang teramat kita cintai
Ketika pena dan buku adalah kawan setia kita setiap pagi

Aku melihatmu dalam seragam sekolah mu yang dulu
Kita saling lirik
saling bertukar tatap dalam detik
Engkau tersipu
Aku mesti mengakui engkau tampak begitu cantik
Bagaimana aku sanggup menahan seluruh gaduh di sekujur tubuhku,
saat mata itu menemukan rumah baginya
untuk memeram rindu?

Oh,
Andai saja kita benar masih remaja
Hatiku hendak mengirim cokelat dan bunga kepadamu
Dan mungkin kita bisa jadi pengantin
di kelas drama
atau dalam tugas sajak bahasa Indonesia
(atau ditengah tidur lelap kita?
mungkin saja)

Sore
Dentang lonceng kembali
Kelas telah usai
Hatiku masih tertinggal

sdj, 120218

(Raker Area Cilacap 2018)

Thursday, January 25, 2018

Buka Puasa

Kepul asap mengerang di bibir cangkir
Suasana sekejap berubah menggala
Manis kafein mengantar sore kepada rembang senja

Lambung yang kian menggeletar
seharian sibuk puasa
Secangkir kopi adalah kamus lengkap untuk berbuka

sdj, 250118

Saturday, June 18, 2016

Jaga Malam

Ada yang memecah sunyi
Malam sepi begini
Ada yang beranjak pergi
Dari senyap bunyi

Pada abjad ke-empat
Suara hembus ke barat
Berderak-derak berat
Berderai-derai lunglai
Angin bermain dawai
Seperti terdengar seringai
Anjing-anjing malam pawai

Ada yang bergerak
Dalam hening cerak
Lagu mendayu
Suara sehening rintih bambu
Berkeretak
Bertalu

clp, 160316

1.000 Kilometer

Aku 1.000 kilometer jauhnya dari waktu
masa kecil tidak pernah berlalu
tetapi jadi milikku

Disitu apakah dapat aku melihat hitam?
atau celoteh berisik katak kata-kata
di kolam mimpimu?

Air matamu bukan air sungai yang dulu aku renangi
Ikan dan pepohonan tak lahir
dari sungai. Hanya deru kereta
yang terdengar ramai
Kereta itu, adakah ia mengangkut air mata
sungai dalam deret gerbongnya?

Masih tersisa berapa kilometer kah masa lalu?
Sedang dalam deru sungai, kata-kata melintas
deras
Bagai perahu, dalam mimpi ikan dan pepohonan
Lalu aku berayun-ayun. Bersamamu
Sambil meremas sisa waktu
Sisa air mata masa kecilku

clp, 100316

Biru

Ku ceritakan padamu tentang Biru
Tentang Lebam di pelupuk mataku
Bekas menahun seluruh kantuk yang alpa ku eja
Dan begitulah, masa lalu selalu hinggap dalam kamar
Seperti kupu-kupu

Aku selalu kepingin menyimpan masa lalu dalam setoples
kaca milik ibuku
Namun kupu-kupu tak mau hinggap diam
Seperti masa lalu. Terbang ia.
Terbang berputar-putar. Dalam langit-langit kamar
Dan wajah kanak-kanak ku pun terukir
dalam sayapnya. Terukir samar
Kamar ku diam-diam menyembunyikan waktu
Hingga tembok pun mulai nampak hijau temaram
Ditumbuhi lumut, dihinggapi ingatan buram
Kemudian, masa lalu datang lagi
Menjelma kantuk yang tak bertepi

Kau mengenal Hijau, tak?

clp, 100316

Merah

Ku ceritakan padamu tentang Merah
Bukan berarti aku marah
Namun begitulah, hidup memang tak pernah
mudah. Selalu berubah.
Seperti api

Aku tak pernah membenci api
Kau juga tidak, kan?
Wajahnya menyala. Menyalakan lentera
Serta lampulampu. Serta kayu
Dan ia tak perlu peduli
Dalam hatimu yang terbakar
Hangus hitam
Dia tak hendak perduli
Lukamu yang abadi
Lebam legam

Kau mengenal Hitam, tak?

kbm, 210915

Friday, June 17, 2016

Malam Sabtu

Dia pasti remuk di dalam hati
Saban malam musti mencuri
Lagu, uang kertas dan waktu
Dan mendandani malam dengan rok mini,
pensil alis dan gincu

Dia pasti lelah dan mabuk
Saban petang bercanda sama pecandu,
serta kelap kelip lampu

"Tak ada yang terlalu serius di dunia ini,
aku cuma perlu dandan rapi wangi!!"
Gumam pikirnya. Menurutku.

Menurutku.
Kau tak harus sepertimu
Tapi, kau pasti sudah tak ingat aku
Setelah selesai kita bersama diruang itu,
di malam sabtu

kbm, 200915

Thursday, June 5, 2014

Tahun Tahun Yang Emas

Bila laut datang, gelombang yang tenang
aku mau berjalan di sepanjang pantai
lalu pasir pantainya yang pualam, bakal
menarik kakiku hingga tenggelam.

Bila langit petang, bulan dihinggapi bintang
aku mau terpejam, dalam sepi yang pualam
lalu kenangan datang, seperti arus pasang.
Langit berdesir. Malam mengalir.

Bila lagu itu mulai berputar, biarkan aku melamun
dialun waktu, diayun masa yang dulu.
Sebelas, tahun - tahun yang emas.
Menungguku pantai, hening lekas.
Langit bergegas menjemputku.
Tidur malam bagai pualam.

kbm, 281113

Thursday, October 17, 2013

Alam Pamit Tidur

Aku mendengar
Bumi telah mendengkur
Tanah terlelap
Di atas sana langit gemerlap

Aku merasakan. Dari kulitku yang dingin
Pepohon berkidung syair desau angin

Lalu aku lihat
Semesta telah tetirah
Meniup terbang segala lelah

Dari telingaku,
Dari kulitku,
Dari mataku,
Alam pamit tidur
Segala yang hidup tertidur

Semoga berjumpa esok, Pagi!

Kbm, 171013

Thursday, August 15, 2013

Obituari Cangkir Kopi

Ketel uap abu - abu telah berbunyi
Berasap – asap
Kita berjanji kepada sore untuk menyeduh secangkir kopi.
Lalu bercerita tentang sejarah api kepada
dapur yang hangat.

Kau menemaniku sore itu
Menatapku begitu dalam. Seperti sebuah buku cerita
Kemudian aku mulai membacamu.
Gelap dan hangat.
Dan akupun begitu larut, jatuh hanyut
dalam setiap sesap yang ku hirup sendiri,
Tenggelam sendiri.

Dapur masih senantiasa hangat
saat sore mulai lelap. Ketel uap telah tidur
kau masih tersisa sebagian hanya.
Sejarah api tak pernah dapat pergi.
Biru seperti asap tebal masa lalu
Menyusuri waktu
Lalu, dari dasar cangkir itu kau memanggilku:
“hei, mari terlelap disini”

Jauh di dasar cangkir,
Aku mulai menghitam.
Aku mulai pekat.

kbm, 160713

Tuesday, December 4, 2012

Danau Yang Tenang

Air tergenang, danau yang tenang
bangau - bangau terbang
kembali pulang nuju sarang
bunga matahari menguncup kembali. seperti sore,
redup bersama rembang hari
yang ingin lekas pergi

Perahu - perahu kayu berarak pulang
menemani awan terbenam
gerimis samar menghilang
rindang pepohonan mulai mengantuk
daunnya bergemerisik, diayun pelan oleh angin sore
dalam lelap, pepohonan mulai mimpi jadi perahu
melayari waktu

air tergenang begitu tenang
dari kedalaman danau, ikan bersenandung syahdu
begitu sendu
Siapa itu berdiri di tepi sore hari ?
seperti hendak mengakrabi kesepian sendiri
datang mencari sisa pelangi
warna yang ditinggal gerimis tadi
namun perlahan bayangannya mengabur
mungkin pergi mencari dasar danau, kesepian paling hijau
meninggalkan air tenang tergenang sendiri, dalam remang matahari

Kbm, 281112

Thursday, December 8, 2011

Angin Dan Layang - Layang

Aku angin dan kau layang – layang
terbangmu berliuk liku di padang ilalang
aku setia menghembusmu dan kau berlarian senang
kadang kau hilang,
kadang tak pulang

Pada suatu sore yang hangat, kau begitu asik terbang
berputar – putar di padang itu, kau riang
tak hirau matahari, atau awan, atau mendung
atau kekicau burung yang terdengar murung

Sore itu aku gelisah
berulang kali berhembus resah
kau terbang begitu jauh
seperti menembus sekumpuluan subuh
lalu aku berlarian mencarimu,
matahari mencarimu,
awan – awan, mendung pula mencarimu
sementara kicau burung memanggil – manggil namamu
kami tak pernah menemu engkau

Aku angin dan kau layang – layang
kau tak pernah tau bagaimana dengan setia aku berhembus
setiup demi setiup
supaya kelak kau kembali pulang
ke padang ilalang

kbm, 061211

Tuesday, April 12, 2011

Memar Biru

Dari dalam memar biru di pelupuk mataku
Kutemukan ribuan nyala lampu
Yang mengubur cahaya-cahaya tua renta
Hingga tampak warnanya merah jingga

Tak jelas pula asal usul itu memar biru
Sebab semalam bintang tak nampak jatuh disitu
Tak nampak se-rasi pun nebula atau mungkin saja orion
Cuma ada beberapa memori dan rekaman-rekaman peristiwa
Adegan pilu

Di pelupuk mataku, kini tumbuh jelaga
Lebam, legam, sakit tua
Dan harum sedap pula baunya
Seperti harum ramu masakan ibu
Masakan pelahap waktu
:Tolong, sampaikan pada ibu,
aku terpaksa tak bisa pulang,
karena aku harus menyelesaikan kenangan-kenangan sepi itu
maaf ibu

Memar biru di pelupuk mataku
Memaksa masuk ke dalam relung mimpi tidur malamku !!

kbm, 100411

Monday, June 2, 2008

Sebelum Mati

Sesulit masa kelam
Jam dinding mendetakku
Serupa kail akulah umpan
Terperangkap tarian arus selatan
Mereka menyebutnya timur...

Selasar sungai kesasar
Jauh ke entah di kota ini
Mungkin pergi mencari hari
Mungkin jalan menjauhi bumi matahari
Mungkin saja hanya berdiri
Berpusing di arah mata menolak angin

Air ini sebagai dahaga
Api sebagai tungku
Lampu sebagai cahaya
Dinding ini lukisan
Dari picasso bagi si buta
Dan badai untuk hujan
Sapu saja semua jalan
Berikan malam satu tujuan
Menghadap pagi di esok hari
Sebelum dia mati...
Jemput aku di kamar ini

00.08 Clp, 230508

Friday, May 9, 2008

Rumah

”Apakah itu rumah ??” tanyamu
Ketika kau beku di kamar biru itu
Menghadap almari tua kayu jati
Dengan kaca dengan aku didalamnya...

Dirumah itu ada ibu
Bukan dering nada hape yang bangunkan tidurmu
Dirumah itu ada bapak
Bukan pemutar MP3 yang mendengar keluhmu
Dirumah ada seNja
Bukan guling lapuk yang menemuimu di kasur

Jadi...
”Apakah kamar ini juga rumah ??” tanyamu
Punya Ibu Hape
Punya Bapak Pemutar MP3
Juga punya seNja Guling Lapuk
Bukan...bukan kataku
:kamar ini panas, kamar ini dingin
Sedang rumah itu hangat...


00.26 clp 090508