:DA
Beberapa butir pasir dan jernih air
menciptakan senyum di manis ronamu, di manik matamu
Kita menangkap diorama cahaya sore itu
kemudian menyimpannya dalam bingkai waktu, jingga ungu
Hari ini, setahun kemarin
Dalam perjalanan menyusur panjang ramah pantai
aku ingat bagaimana tanganmu yang gemetar
kau lingkarkan di bahuku
Isyarat yang selalu ku tangkap sebagai lagu tentang rasa rindu,
sebagai peluk hangatmu
sehangat sinar yang berhasil kita peram dalam teduh mata kita
Lalu kurengkuh gemetar tubuhmu diatas geletar ombak
Kau mengangguk
Aku tersenyum kecil
saat angin menerbangkan ingatan, agar pasir mencatat nama kita di dalam desirnya
Sore itu, setahun kemarin
Dalam rembang senja
Dalam panjang luas pantai kita
kita sepakat menamakan perjalanan itu sebagai: Cinta
terimakasih cahayaa
smg, 250711
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Monday, July 25, 2011
Monday, July 11, 2011
Insomnia #2
Ia kepayahan saat mencoba menarik
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
selembar selimut ke lingkar badannya.
Berusaha menutup-nutupi matanya dari serbuan
sinar lampu yang menusuk-nusuk, mengusir kantuk.
Ia menderita insomnia, sebab ia pikir
mimpinya selalu hadir terlalu pagi.
Saat bangun, saat bekerja.
Saat menonton televisi.
Saat dalam perjalanan pulang.
Saat bertemu kekasihnya yang dulu,
yang dia kecewakan dulu.
Dia selalu merasa bermimpi,
dalam setiap bangun pagi.
Ah, seandainya dia tahu kalau seharusnya dia minum kopi
seraya melarutkan mimpi-mimpi dalam gelas bergambar tim sepakbola favoritnya.
"Putarlah ! Aduklah beberapa kali
hingga gelas itu menyala, pertanda kopi dan mimpi telah larut sempurna"
"Lalu reguklah !"
"Sampai kau sadar bahwa saat ini sudah malam hari,
saat kekasihmu itu hanya dapat muncul dalam mimpi !"
kbm, 110711
Saturday, July 9, 2011
Aku Ingin Berjalan 150 Meter ke Utara
:cahayaa
Aku mencintaimu,
dalam beku suara dan pedih mata
dalam pucat pagi dan bisu sepi
dalam gersik rumput dan lindap maut
aku mencintaimu..
Aku merindukanmu,
dari riuh tawa dan sembab mata
dari hangat peluk dan hening ajuk
dari tatap haru dan kecup bibirmu
aku merindukanmu..
Aku sungguh ingin berjalan 150 meter ke utara
menyusuri lorong lama muasal segala cerita kita
namun lorong gelap itu, semakin menggelap saja
dan dari dalam jarak 150 meter itu,
terhisap semua nada, terserap segala bahasa
hingga aku tak lagi mampu mengirim suara, merapal lagi kata:
"Aku mencintaimu,
Aku merindukanmu, cahayaa !
Sungguh !!"
smg, 090711
Aku mencintaimu,
dalam beku suara dan pedih mata
dalam pucat pagi dan bisu sepi
dalam gersik rumput dan lindap maut
aku mencintaimu..
Aku merindukanmu,
dari riuh tawa dan sembab mata
dari hangat peluk dan hening ajuk
dari tatap haru dan kecup bibirmu
aku merindukanmu..
Aku sungguh ingin berjalan 150 meter ke utara
menyusuri lorong lama muasal segala cerita kita
namun lorong gelap itu, semakin menggelap saja
dan dari dalam jarak 150 meter itu,
terhisap semua nada, terserap segala bahasa
hingga aku tak lagi mampu mengirim suara, merapal lagi kata:
"Aku mencintaimu,
Aku merindukanmu, cahayaa !
Sungguh !!"
smg, 090711
Friday, July 1, 2011
Relikui
:cahayaa
/I/
Tidak ada yang samar sekarang
hanya ada aku dan kamar
Lalu kau mengintip dari sebalik jendela, yang separuh terbuka
aku bisa tahu, sebab kau membawa cahayaa didalam hitam matamu
kemudian kamarku semakin terang, semakin benderang
Maukah kau masuk ?
Sudikah kau sinari redup kantuk ?
Di kamar kurus kering ini,
aku meramal cuaca sendiri !
Menebak raut muka matahari,
aku namun perlu cahayaa disini !
/II/
Aku musti berterimakasih kepadamu sekarang
kepada cahayaa disudut matamu terang
kamarku kerlip benderang
Karena matahari meninggi, kau musti redup kembali
Demi cahayaa mu yang melangkah pergi,
aku bakal berjanji mengejar itu matahari !
kbm, 010711
/I/
Tidak ada yang samar sekarang
hanya ada aku dan kamar
Lalu kau mengintip dari sebalik jendela, yang separuh terbuka
aku bisa tahu, sebab kau membawa cahayaa didalam hitam matamu
kemudian kamarku semakin terang, semakin benderang
Maukah kau masuk ?
Sudikah kau sinari redup kantuk ?
Di kamar kurus kering ini,
aku meramal cuaca sendiri !
Menebak raut muka matahari,
aku namun perlu cahayaa disini !
/II/
Aku musti berterimakasih kepadamu sekarang
kepada cahayaa disudut matamu terang
kamarku kerlip benderang
Karena matahari meninggi, kau musti redup kembali
Demi cahayaa mu yang melangkah pergi,
aku bakal berjanji mengejar itu matahari !
kbm, 010711
Monday, June 13, 2011
Pucat
Terang itu sebenarnya abu - abu
Mungkin itu segamping batu
Mungkin debu, mungkin sepatu yang musti kau pakai tiap hari minggu
Atau mungkin cuma lagu yang selalu berputar di ujung malam harimu ?
(Lagu itu lagu yang memburu mimpi - mimpi burukmu)
Kau harus selalu tahu bagaimana muka langit berubah - ubah
Namun hanya mendung yang perlu kau cemaskan
bila kau alpa membawa sebilah payung atau mantel palstik palsu
Sebab kau tak pernah hafal bagaimana merapal mantra penolak hujan, bukan ?
Dan kau tak tahu bukan, bagaimana terang muka matahari
yang berubah putih pasi
saat harus menyinari segamping batu di telapak sepatumu ?
(pada pucat hari minggu)
*
Dengan suhu tubuh yang tinggi
Wajahmu putih mutih seperti kuah kari
Lalu tubuhmu akan berpilin dengan berlembar - lembar selimut
Dan dalam kalibut cuaca kau mulai hanyut
Entah
Pada musim semi ?
atau di akhir bulan Mei ?
kbm, 130611
Mungkin itu segamping batu
Mungkin debu, mungkin sepatu yang musti kau pakai tiap hari minggu
Atau mungkin cuma lagu yang selalu berputar di ujung malam harimu ?
(Lagu itu lagu yang memburu mimpi - mimpi burukmu)
Kau harus selalu tahu bagaimana muka langit berubah - ubah
Namun hanya mendung yang perlu kau cemaskan
bila kau alpa membawa sebilah payung atau mantel palstik palsu
Sebab kau tak pernah hafal bagaimana merapal mantra penolak hujan, bukan ?
Dan kau tak tahu bukan, bagaimana terang muka matahari
yang berubah putih pasi
saat harus menyinari segamping batu di telapak sepatumu ?
(pada pucat hari minggu)
*
Dengan suhu tubuh yang tinggi
Wajahmu putih mutih seperti kuah kari
Lalu tubuhmu akan berpilin dengan berlembar - lembar selimut
Dan dalam kalibut cuaca kau mulai hanyut
Entah
Pada musim semi ?
atau di akhir bulan Mei ?
kbm, 130611
Monday, June 6, 2011
Malam Dan Laut
Hanya laut, hanya kepada laut
akan kukirim sekam hitam noda hatiku
bekas terbakar nyala api mahabiru
cintamu yang sedan sendu, nona.
Hanya karang, hanya kepada karang
akan ku remukkan keras ingatan
nun padat mengerak didasar lubuk kepala,
di pelupuk mata
kenangan birumu, nona.
Sepertinya malam tak pernah paham perangai ombak
bagaimana ia tenang, bagaimana ia bergejolak
Namun malam, hanya kepada malam
angin bakal mengutuk semua ingatan yang subur tumbuh dimimpi ku
Dan ombak, hanya kepada ombak
akan mulai kularung hanyutkan mimpi - mimpi buruk
perahu - perahu sibuk pembawa kantuk diujung tidur lelapmu, nona.
smg-kbm, 030611
akan kukirim sekam hitam noda hatiku
bekas terbakar nyala api mahabiru
cintamu yang sedan sendu, nona.
Hanya karang, hanya kepada karang
akan ku remukkan keras ingatan
nun padat mengerak didasar lubuk kepala,
di pelupuk mata
kenangan birumu, nona.
Sepertinya malam tak pernah paham perangai ombak
bagaimana ia tenang, bagaimana ia bergejolak
Namun malam, hanya kepada malam
angin bakal mengutuk semua ingatan yang subur tumbuh dimimpi ku
Dan ombak, hanya kepada ombak
akan mulai kularung hanyutkan mimpi - mimpi buruk
perahu - perahu sibuk pembawa kantuk diujung tidur lelapmu, nona.
smg-kbm, 030611
Musim Gugur
Musim gugur mulai tiba, namun serangkai bunga dandelion di tepi Alabama akan tinggal sementara waktu untuk menunggu hembus terakhir angin penghujung musim pulang kembali ke rumahnya di kehangatan utara.
Serombongan belalang resah melihat perangai angin yang semakin lama semakin tak bersahabat sebab mereka belum merasa puas mengarung jelajahi taman musim semi, namun musim sudah terlanjur gugur dan perlahan kembali bertiup ke utara menjadi jalan pulang bagi cuaca.
Musim gugur tahu, bahwa dandelion akan berjaga sepanjang waktu hingga kelopak terakhir mereka beriring pulang tertiup hembus hangat angin dari utara.
Para belalang ragu, cuaca semakin gugur manakala mereka harus pulang beriring musim dan waktu sementara angin semakin utara berhembus hangat bersama sahabat dandelionnya.
Musim gugur mulai tiba, saat kelopak-kelopak angin utara terhembus hangat oleh dandelion terakhir di padang ilalang belalang di tepi Alabama.
kbm, 010611
Serombongan belalang resah melihat perangai angin yang semakin lama semakin tak bersahabat sebab mereka belum merasa puas mengarung jelajahi taman musim semi, namun musim sudah terlanjur gugur dan perlahan kembali bertiup ke utara menjadi jalan pulang bagi cuaca.
Musim gugur tahu, bahwa dandelion akan berjaga sepanjang waktu hingga kelopak terakhir mereka beriring pulang tertiup hembus hangat angin dari utara.
Para belalang ragu, cuaca semakin gugur manakala mereka harus pulang beriring musim dan waktu sementara angin semakin utara berhembus hangat bersama sahabat dandelionnya.
Musim gugur mulai tiba, saat kelopak-kelopak angin utara terhembus hangat oleh dandelion terakhir di padang ilalang belalang di tepi Alabama.
kbm, 010611
Subscribe to:
Posts (Atom)