Monday, May 17, 2021

Tanah

Pertanyaan telah terbubuh pada ladang bunga kertas
serta terserap sempurna pada pori-pori
menuju akar
bersama embun arunika di cakrawala
     "Sampai saat yang ditentukan,
      kita berdoa atau berdiam saja?"

Aku adalah daging dan tulang
yang terkubur pada letih zaman
dan merambat seperti dersik ilalang

Engkau bersujud pada lembab lembah jingga
tanah berbisik syair pasir ditelinga mu

kry, 180521

Thursday, April 29, 2021

Air

Kedalaman telah tenggelam dan gugur
pada dasar danau
dan cahaya dari sisa purnama 
semakin memutih, nampak lemah 
berkelip diantara batu-batu yang telah lama tidur
dininabobo arus permukaan

Aku adalah daging dan tulang
yang diperam oleh zaman
dan hanyut pada sungai tanpa tepian

Engkau berlayar menyusur luas umur
air tenang berlalu

kry, 300421

Saturday, March 27, 2021

Api

Apa yang membutakan malam
dan menyelimuti pagi dengan kabut
sehingga kehidupan terus tertidur
    Elok tari api
    menjadi satu-satunya penerang 
    serta penghangat
    bagi ruas ruang sepi

Aku adalah daging dan tulang
yang terpasung pada serpihan zaman
dan hangus membara dalam perapian

Engkau berlompatan di sebatang kayu bakar
api berkeretak merah ungu bersamamu

kry, 270321
    

Sunday, January 31, 2021

Udara

Udara menebal dan menembus ruas ruang
siapa mengira rindu akan mulai redup remang
disela hujan dan musim angin

Aku adalah daging dan tulang
yang diceritakan oleh zaman
dan dilepih pada muram rerumputan

Engkau meradu pada seutas akar perdu
udara memar biru

kry, 310121

Monday, November 30, 2020

Tahun Tenang Berlalu

Tahun tenang berlalu
namun tak sedikitpun berubah
genangan air laut biru
ombak sepi sendiri terpecah

Sepi air laut biru
genangan tak sedikitpun berubah
ombak sendiri berlalu
tahun tenang terpecah

Ombak sepi berlalu
namun tahun tak sedikitpun berubah
genangan sendiri biru
air laut tenang terpecah

Genangan tenang berlalu
air laut tak sedikitpun berubah
sepi ombak biru
sendiri tahun terpecah

kry, 301120

Saturday, September 12, 2020

Ada Yang Tidak Tampak

Ada yang menumbuhkan cemas
pada lorong rumah sakit
pusat kota
Langkah kaki yang setiap saat selalu dipercepat
agar tak terlambat memasang ventilator
bagi paru-paru yang sudah sesak
diserbu mikroorganisme

Ada yang menubuhkan harap
pada bilik-bilik isolasi
agar degup jantung yang melemah ini segera
muncul detak kembali
Seorang pasien masih terpejam sejak tadi pagi
tidak ada yang dikenalnya di ruang tersebut
kecuali dokter, perawat serta baju-baju hazmat;
mungkin anak gadisnya hanya bisa pasrah berdoa
diluar koridor sambil menyeka sembab pipi merahnya

Pusat kota telah menjadi hutan
yang nyaris tidak pernah bisa kita kenali
Beragam makhluk menjelma kehidupan yang lain
serta udara,
telah bercampur dengan kawanan serigala kecil
yang mengalir melalui lendir
pada trakea serta kerongkongan

Ada yang menghamburkan nestapa
pada satu tahun yang ditasbihkan oleh kabisat bulan
menjadi kerikil kecil pada peradaban
Hingga setiap saat kita akan mengingat
bahwa semungil itulah sejarah manusia
di kedua Tangan-Nya saja kita berada
perjalanan yang akan berakhir pada tanah
bagi setiap jiwa

kry, 120920

Friday, August 28, 2020

Partitur

Apa yang diceritakan sebuah peradaban
tentang kabar duka di sebuah medan pertempuran?
Kaleng-kaleng mesiu yang amblas di parit prajurit
atau kaleng-kaleng susu bagi bayi yang ditinggal mati bapaknya
sebagai martir untuk menghentikan perang
yang ternyata hanya menambah daftar korban
pada kolom berita harian
sebuah surat kabar

Siapa yang telah menciptakan parut luka
pada luas punggung sejarah?
Pertemuan dua pasukan, atau dua keyakinan, atau dua kekuasaan
yang harus diselesaikan dengan tumpukan mayat
serta torehan darah?
Dua kumpulan manusia yang tampak sama,
mengapa harus saling melempar kekacauan?
Lalu mengapa terbit memar pada tembolok cakrawala
sehingga pagi datang selalu muram
tanpa memberi empati bagi seorang
gadis kecil yang hidup seorang diri ditinggal mati?

Mari bersama-sama menyesap dingin pada cangkir kita
Kita tak tahu gelas tua retak ini berisi apa
Namun semoga dapat membasuh dahaga dari mulutmu
serta mulutku
(yang kini sibuk menanam ranjau di bibirmu)
Mari mencari kata sepakat bagi akhir dari sebuah hikayat perang ini
agar peradaban yang terlanjur rusak tidak menjadi pemakaman
bagi dua mayat tak berharga
yang sibuk berbincang di kedai kopi
menyaksikan maghrib datang ditengah dentum dan desing perang yang semakin menua

kry, 280820