:eya
(i)
Siapa butuh masa depan
Aku tak butuh apapun karena arlojiku
sudah masa depan yang paling depan
Lukiskan saja aku (dan engkau) tentang kenangan
Tentang hujan, halte bus ataupun toko buku
Mungkin bangku taman sekolah yang resah
Kau pernah bercerita padaku tentang masa depan
Soal kapan telapak kaki kita menjadi malam
Dan ingatan, serta rindu yang tak bernama
Namun aku tak mau terlalu banyak masa depan
Karena aku tak bisa bertemu kenangan
Yang hampir saja selesai kau lukiskan
(ii)
Di tepi malam ini aku bertemu masa lalu
Saat itu arlojiku mati
Mungkin terbaring sebentar
setelah lelah mengeluarkan ribuan digit detik
Wajah masa lalu seperti kenangan
yang hampir saja selesai kau lukiskan
Masih tetap penuh dengan warna biru
Namun tampak lebih mentary daripada pagi
Bila hari ini telah selesai semua malam-malam yang kau ceritakan
Aku ingin beranjak ke senja saja
Tempat dulu pernah kita butakan mata, hati, kaki kita
telinga, dada, pagi, mati kita
Lalu kita hamburkan kata-kata agar angin menangkapnya
Ataupun jatuh ke debu bertemu apa yang aku dan engkau tak tahu
(iii)
Ketika arlojiku terbangun
Aku gagap dilahap senyap
Masa depan dan engkau telah selesai dilukis oleh masa lalu
Sama seperti sisa kata-kata kita yang jatuh ke debu
Yang aku dan engkau tak tahu
smg, 070309
20.55
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Monday, March 9, 2009
Tuesday, February 24, 2009
Kidung Tidur
Biasanya kami menyerah setelah semua malam kami lelah dan berseru ingin terlebih dahulu tetirah yang kami anggap sebagai waktu untuk hinggap di pagi-pagi yang senyap hingga kami hiraukan setiap tik-tok jam ataupun warna-warni dinding kamar tempat badan tubuh malam kami rebah sedang kemarin hari kami berjalan di tiap undakan tanah sewarna merah berumput hijau dan cahaya kami kuning mentari sembari mencari apa yang halal bagi hidup serta tidur kami seperti arus angin dan air kali yang terbang mengalir mengikuti matahari di sela-sela musim-musim yang berganti dari gugur menjadi semi lalu panas menuju dingin yang tak bertepi sedemikian sunyi segelap malam kami saat hendak membangun para mimpi ataupun dinding berjam tik-tok di kamar warna-warni kami namun perlahan kami mulai meraba dinding untuk sebuah tidur yang masih terlalu pagi.
kbm, 240208
23.00
kbm, 240208
23.00
Friday, June 13, 2008
Buku Catatan
/ I /
Tak bisakah datang halaman pertama buku itu
Walau tinta penanya telah hitam kelabu
Namun ceritanya masih sesamar masa lalu
Satu tokoh dan adegan paruh waktu
Tampaknya rusak juga katakata yang ada di kepalanya
Tenggelam di arus racau para manusia
Lalu bagaimana tinta bisa mengadu pada waktu yang dungu ?
Masih kusimpan seserakan kertas yang bercerita
Jadi rahasia...
/ II /
Selembar kertas putih bergaris
Menyimpan cerita selelah hari ini
Nanti kucarikan nomor halaman baru baginya
Agar jadi penambal kusam buku itu
Kutu kampungan itu menggigiti sampul bukuku
Mulutnya penuh tinta warna hitam kelabu
Halaman pertamanya dirobek paksa ditengah cerita
Jadi janggal...
Cerita ini berawal dimana ?
Masih kusimpan halaman terakhir buku itu
Tetap putih tanpa warna...
cLp, 110608
22.47
Tak bisakah datang halaman pertama buku itu
Walau tinta penanya telah hitam kelabu
Namun ceritanya masih sesamar masa lalu
Satu tokoh dan adegan paruh waktu
Tampaknya rusak juga katakata yang ada di kepalanya
Tenggelam di arus racau para manusia
Lalu bagaimana tinta bisa mengadu pada waktu yang dungu ?
Masih kusimpan seserakan kertas yang bercerita
Jadi rahasia...
/ II /
Selembar kertas putih bergaris
Menyimpan cerita selelah hari ini
Nanti kucarikan nomor halaman baru baginya
Agar jadi penambal kusam buku itu
Kutu kampungan itu menggigiti sampul bukuku
Mulutnya penuh tinta warna hitam kelabu
Halaman pertamanya dirobek paksa ditengah cerita
Jadi janggal...
Cerita ini berawal dimana ?
Masih kusimpan halaman terakhir buku itu
Tetap putih tanpa warna...
cLp, 110608
22.47
Sudahlah
Jalanan ini sudah terlalu jauh menempuh jarak
Tapi tetap saja kamar ini menyimpan setiap kilometernya dibalik kasur
Rapat disembunyikan dari rantai mataku
Tak seinchi pun aku pernah menemu
Rangkaian peta bentang alam kota itu
Sepertinya aku kehilangan foto siluet senja
karena mentari, bintang, bulan,
bumi, gravitasi...
Berkumpul disini
Tepat dibawah ruang hati
Jadi...
Bagaimana kota itu dan senja harus menyatu
Selaik dulu seperti asalnya
Sebelum jarakku menelan jalan berpuluh kilometer
Sebelum waktuku menelan jam biru beratus - ratus menit
Dan sebelum kamar ini memulai cerita
Tentang kumpulan umur, waktu dan jarak
Yang makin usang terinjak diinjak
Sudahlah
Aku ingin jatuh ketanah
Tanpa suara...
cLp, 110608
18.26
Tapi tetap saja kamar ini menyimpan setiap kilometernya dibalik kasur
Rapat disembunyikan dari rantai mataku
Tak seinchi pun aku pernah menemu
Rangkaian peta bentang alam kota itu
Sepertinya aku kehilangan foto siluet senja
karena mentari, bintang, bulan,
bumi, gravitasi...
Berkumpul disini
Tepat dibawah ruang hati
Jadi...
Bagaimana kota itu dan senja harus menyatu
Selaik dulu seperti asalnya
Sebelum jarakku menelan jalan berpuluh kilometer
Sebelum waktuku menelan jam biru beratus - ratus menit
Dan sebelum kamar ini memulai cerita
Tentang kumpulan umur, waktu dan jarak
Yang makin usang terinjak diinjak
Sudahlah
Aku ingin jatuh ketanah
Tanpa suara...
cLp, 110608
18.26
Thursday, June 5, 2008
Mimpi Mimpi Mimpi
Merah...
Masih kesepian disudut biru
yang tak pernah kunjung ungu
Walau terang ini putih sungguh
Sesungguh mural hijau rumput ditanah keruh
Oh iya...
Bunga itu kuning kerontang
Terbiar mati sebelum berhasil menghias ladang
Padahal dia bisa jadi violet
atau sombong seperti emas
Yang sisi empatnya berkarat erat
Didinding coklat itu malam terdiam
Sementara bayang badannya semakin kelam
Mengusir gravitasi dari lengan dan kanan
Kaki dan kiri...
Mimpi mimpi mimpi
Mengapung seribu warna pelangi,
Malaikat,
Dan gelombang udara
cLp, 010608
23.47
Masih kesepian disudut biru
yang tak pernah kunjung ungu
Walau terang ini putih sungguh
Sesungguh mural hijau rumput ditanah keruh
Oh iya...
Bunga itu kuning kerontang
Terbiar mati sebelum berhasil menghias ladang
Padahal dia bisa jadi violet
atau sombong seperti emas
Yang sisi empatnya berkarat erat
Didinding coklat itu malam terdiam
Sementara bayang badannya semakin kelam
Mengusir gravitasi dari lengan dan kanan
Kaki dan kiri...
Mimpi mimpi mimpi
Mengapung seribu warna pelangi,
Malaikat,
Dan gelombang udara
cLp, 010608
23.47
Monday, June 2, 2008
Bila Kau Mau
Bila kau mau
Bertukar wajah dengan sedepa alur waktu
Atau batu yang mekar disetubuhi benalu
Yang senyawanya hinggap di sela pagar rumput dan matahari
Dalam kaki – kaki suara yang mati
( karena sepi )
Empat arah dari naungan lampu langit ini
Tetap saja tak berkawan bagimu
Percuma saja...
Seratus nol pun tak bisa membawamu juga
Merangkak keluar dari bawah malam
Dan dari kamar biru yang berpintu kelam
Habis...
Senja pun mulai ditikam senyum bulan
Mau saja kau ditipu bulan
Bila kau mau
Tubuhmu masih bisa ditukar cerita
Antara hitam, temaram atau karam
Sama saja tetap saja kamar ini yang jadi penjara
Mati kau dihimpit malam
Clp, 310508 23.44
Bertukar wajah dengan sedepa alur waktu
Atau batu yang mekar disetubuhi benalu
Yang senyawanya hinggap di sela pagar rumput dan matahari
Dalam kaki – kaki suara yang mati
( karena sepi )
Empat arah dari naungan lampu langit ini
Tetap saja tak berkawan bagimu
Percuma saja...
Seratus nol pun tak bisa membawamu juga
Merangkak keluar dari bawah malam
Dan dari kamar biru yang berpintu kelam
Habis...
Senja pun mulai ditikam senyum bulan
Mau saja kau ditipu bulan
Bila kau mau
Tubuhmu masih bisa ditukar cerita
Antara hitam, temaram atau karam
Sama saja tetap saja kamar ini yang jadi penjara
Mati kau dihimpit malam
Clp, 310508 23.44
Sebelum Mati
Sesulit masa kelam
Jam dinding mendetakku
Serupa kail akulah umpan
Terperangkap tarian arus selatan
Mereka menyebutnya timur...
Selasar sungai kesasar
Jauh ke entah di kota ini
Mungkin pergi mencari hari
Mungkin jalan menjauhi bumi matahari
Mungkin saja hanya berdiri
Berpusing di arah mata menolak angin
Air ini sebagai dahaga
Api sebagai tungku
Lampu sebagai cahaya
Dinding ini lukisan
Dari picasso bagi si buta
Dan badai untuk hujan
Sapu saja semua jalan
Berikan malam satu tujuan
Menghadap pagi di esok hari
Sebelum dia mati...
Jemput aku di kamar ini
00.08 Clp, 230508
Jam dinding mendetakku
Serupa kail akulah umpan
Terperangkap tarian arus selatan
Mereka menyebutnya timur...
Selasar sungai kesasar
Jauh ke entah di kota ini
Mungkin pergi mencari hari
Mungkin jalan menjauhi bumi matahari
Mungkin saja hanya berdiri
Berpusing di arah mata menolak angin
Air ini sebagai dahaga
Api sebagai tungku
Lampu sebagai cahaya
Dinding ini lukisan
Dari picasso bagi si buta
Dan badai untuk hujan
Sapu saja semua jalan
Berikan malam satu tujuan
Menghadap pagi di esok hari
Sebelum dia mati...
Jemput aku di kamar ini
00.08 Clp, 230508
Subscribe to:
Posts (Atom)