Thursday, December 1, 2011

Kalau Aku Boleh Mengingatmu

:mentari apimahabiru

Kalau aku boleh mengingatmu,
aku ingin mengingatmu sebagai mentari
datang dan pergi sepanjang hari
membagi hari menjadi malam dan siang
membagi hati menjadi getir dan sayang

Kalau aku boleh mengingatmu,
aku ingin mengingatmu sebagai api
Mahabiru nyalamu membakar waktu
:ruang yang kau ciptakan dibilik dadaku
merah padam yang tak juga kunjung berhenti

kbm, 011211

Wednesday, November 30, 2011

Sketsa Waktu

(masa lalu: )
Malam adalah sketsa yang akan selalu ditampilkan
walaupun kami benci gelap,
namun tetap saja kami tak boleh mengelak
ini inti cerita, ini lakon yang musti kita rupa
Atau apabila kami sudah mulai takut,
kami pegangan saja pada narasi kami
sumber gerak tubuh kami
tapi, kami harus selalu berhati - hati
tak ingin terjebak dingin narasi basi

Saat adegan hujan ditampilkan
hati - hati kami jaga naskah itu,
naskah narasi itu
kami dekapkan di sebalik baju
agar air hujan tidak sampai melunturkan
apa - apa saja kata yang terketik disana
karena kami tak mau kehilangan satupun tanda baca

Kami jaga narasi sketsa malam itu
sebagai masa lalu
sketsa waktu

(masa ini: )
Kami ulang - ulang apa yang narator pernah ceritakan
kami rupakan kembali narasi untuk sketsa kami sendiri
namun kali ini kami tak terlalu ingin menceritakan tentang malam lagi,
atau dingin, atau hujan lagi,
ada yang lebih menarik dari narasi milik narator kami

Dengan perlahan narator kami mulai menua,
mulai direngkuh usia
dan kami tahu, itulah alasan mengapa saat ini kami mulai menulis - nulis sendiri
Ya! kami mencetak sebuah naskah narasi
sketsa kami sendiri

Dan bukan lagi tugas kami menjaga narasi milik narator kami
tugas kami sekarang adalah menjaga para narator dari sepi
sebelum bertemu mati
sebelum dijemput umur yang uzur

(masa depan: )
Suatu hari,
kami akan mengenang narator kami nanti
mengenang narasi - narasi yang lama
atau menceritakan sketsa - sketsa lama
tentang malam, atau dingin, atau hujan pula
sebagai pengingat tentang awal mula kami
Supaya kami tak pernah lupa siapa dulu kami sebenarnya
Agar kami selalu ingat satu dialog dalam naskah lama kami
:kepada narator kami berjanji
Bahwa kami akan selalu berbagi

kbm, 281111

Saturday, November 19, 2011

Pelajaran Membaca

Aku benar – benar tak pernah bisa menemukan nama dalam wajahmu
Matamu hanya memberi tanda kedip dan kerlip
Begitu penuh sesak pertanyaan dalam mulutku
Yang belum berhasil pula kucatatkan bagimu,
Masih separuh ragu – ragu

Aku benar – benar tak pernah dapat menebak isyarat dalam hatimu
Mulutmu hanya menceritakan beberapa larik tentang hujan
Belum juga reda seluruh mendung gemuruh di wajahmu
Hingga belum berhasil pula kususun pernyataan – pernyataan itu bagimu,
Masih separuh abu – abu

Aku benar – benar kepayahan saat harus membaca berbuku – buku senyummu
Kalimat – kalimat rahasia dalam berlembar – lembar kisah itu

Kbm, 161111

Pelajaran Mengingat

Lampu – lampu kota dan nyala redupnya itu
Mengingatkan aku kepadamu

Etalase toko yang berjajar penuh warna – warni itu
Mengingatkanku padamu

Perjalanan panjang semalam suntuk itu
Mengingatkanku kepadamu

Sepi pagi dan lengang kota ini mengingatkan
Aku padamu

Derik jangkrik dan gerimis kecil itu
Mengingatkan aku padamu

*

Lalu, tiba – tiba kau datang di dalam sebuah lagu
Yang biasa ku dengarkan tiap malam menjelang tidur bisuku

Lagu – lagu itupun mengingatkan bahwa aku pernah begitu mencintaimu

Kbm, 161111

Ngilu

Seketika itu seluruh sendi dalam tubuhmu kaku
Dihimpit ruang kamar,
Wajahmu memar biru

Dari setiap penjuru, dingin datang
Lalu sigap mencengkam, menyerang
Sakitnya menyala ke seluruh ruas tulang
Hingga ngilu mengerang

*

Cuaca berubah – ubah selalu, angin berlalu
Nyeri berkeretak tulang, bagai rumpunan bambu
Menahan beban kepala, tubuh, hati pilumu
Terasa itu begitu ngilu

*

Kau berdiri, walau goyah kaki
Walau tulangmu pedih peri
( sepertinya digigiti dingin pagi )
Namun kau bangun berdiri

Jangan takut ! Berlarilah !
Dalam gegap gelap kabut, menghilanglah !
Ngeri itu cuma kiasan, bagi penyakit menahun yang musti kau tahan

Jangan takut ! Ber-apilah !
Memar di tulangmu, tak acuhlah !
Angin, pergilah !

Kbm, 161111

Sunday, October 30, 2011

Tiba - Tiba Hujan Datang

Tiba - tiba gelap mendung datang
Sesegera harus aku nyalakan
lampu penerang
Sebelum kilat datang bersama dingin hujan

aku sendirian

Kalau waktu itu aku tak mengenalmu
mungkin aku tak perlu menyesal dalam - dalam
Sebab, segala hari tentang engkau dan aku
masih sering muncul berbentuk gumam
(pada saat seperti itu biasanya datang hujan)

Lalu aku akan sembunyi,
di gelap mendung hari
Dan aku yakin kau pasti hanya melihat keluar
jendela
menatap kelebat air yang membawa semua
kesedihanku dideras deraunya

Tiba - tiba hujan datang
Deras
Aku kedinginan
Sendirian

smg, 301011

Thursday, October 13, 2011

Kabar Dari Lapangan Voli

kepada: nomer 2

Jadi begitulah,
Pertemuanku dengan bulat bola,
sampai juga ke bulat matamu.
Matamu hitam ungu.

Tanganmu melambai.
Smash-mu yang jatuh tajam ke bidang lawan,
jatuh pula tepat di bidang dadaku,
di merah jantungku.
( tajam merah seperti senyummu simpul )

Jadi beginilah,
pertandingan sore itu seperti pindah
ke dalam tubuhku. Menggemuruh. Sorak Sorai.
Sepertinya riang tawamu pun ikut masuk,
tubuhku semakin ramai.

Dari sisi lapangan pertandingan,
aku menunggu juga di sisi hatimu.

kbm, 131011