Thursday, March 3, 2011

Seakan Pagi Dan Malam Abadi

:...seakan pagi dan malam abadi
(aishiteru)

Kemana aku harus menemukan pagi ?
Bila suatu saat nanti malam menjadi terlalu abadi
Dan yang sempat kau catat hanya sungut muka matahari ?
Jalan setapak itu, jalan berbatu itu..
Penuh sisa perkelahian malam dengan umurnya sendiri
Jalan yang biasa kau lalui, menuju lelap suara
Menuju rasa kantuk senja ( rasa ngilu tersebab sembab air mata )
Namun, seberapa rentakah malam mampu menemani dengkur tidurmu, Nona ?

*

Kemana aku harus menemukan malam ?
Bila suatu hari nanti pagi terlalu lama menjadi abadi
Dan engkau tak sempat mencatat berapa lama sudah hujan menggenangi danau di bening matamu
Jalan setapak itu, jalan rumput di tepi sungai itu
Senantiasa kau susuri, kau raba-raba sendiri
Jalan menuju kebun lebat warna-warni bunga
Kebun hangat warna-warni cahaya
( Rupa warna matahari, jalan setapak yang sepi )
Oh, seberapa tua pagi akan menjadi penunjuk jalanmu, Nona ?

smg, 270211

Thursday, February 24, 2011

Lanskap Waktu

yang tak sempat kau catat itu adalah waktu.
sejarah yang berulang-ulang, yang selalu sungsang diujung kepalamu.

yang tak sempat kau baca itu adalah pagi.
kitab-kitab yang kau sigi, rotasi matahari, lintang bujur lanskap bumi.

Friday, February 18, 2011

Pada Suatu Malam Yang Lain, Bulan Akan Datang Lagi Untukmu

#tapi setangkai ilalang memanahnya,
hingga bulanku jatuh dan berderai-derai


/1/
Kebencianmu pada ilalang itu mengalahkan ketakutanku kepada hujan
pada riap derap dentumnya saat bertemu bumi
riap derap yang menembus gigil dingin malam hari
dan dengan gemuruh dentum itu, seolah ia bercerita sesuatu tentang pertemuan kecilnya dengan bulan
bulan yg dihinggapi rasa khawatir dan getir
dan yang telah berjatuhan airmatanya baru saja
selepas ilalang busuk itu tepat memanah memar lukanya

/2/
Hujan hampir selesai menghabiskan titik airmata-airmata bulan
mengeringkan raut muka malam
seraya merapat kepadaku, ia kembali melanjutkan cerita :
"Pada suatu malam yang terang, bulan akan datang lagi
akan menyatukan hati, mengutuhkan mimpi
mengutuk sunyi² serta lembab dingin sepi.
Pada suatu malam yang lain, bulan akan datang lagi untukmu"

Smg, 190211

Friday, January 7, 2011

Balada Kertas

Aku hanya menerka darimana kertas berasal
tepian hutankah ?
ditempat yg sama nenek moyang kami bermuasal

*

aku juga bertanya, dimanakah secarik kertas untuk sajakmu ini tinggal ?
di batu, di sumur, di tanah ?
di hangat rahim ibu, atau di lubang tempat ruh mu nanti hijrah-kah ?

kbm, 050111

Thursday, May 20, 2010

Cerita Akhir Malam

:DA

bumi
langit
cahaya
terpilin semua oleh gelombang udara !!
waktu adalah malam hari yang keluar dari balik matamu
yang tak bisa kau tawar lagi dengan kedip semu
atau tatapan haru

lorong gelap
bumi
langit
aku perlu cahaya, engkau cahaya !
berapakah harga waktu yang selalu kau pinta di tiap kedip matamu ?
seharga permata atau air mata ?
maka aku tak lagi bisa menebak-nebak kisaran tawa yang harus kukirim ke lesung manis ronamu

( maaf, aku harus menuliskan sesuatu tentang kesedihanmu. karena senyum itu hilang dan tenggelam )

lorong gelap di ujung bumi itu adalah langit malam hari yang tenggelam
seperti senyummu..

kira-kira, berapa harga satu jengkal tawa dalam hening waktu ?
aku akan membayarnya dengan pagi yang mampu lesap masuk ke lesung manis rona wajahmu !

kbm, 160110
01.42

Friday, July 3, 2009

19 Putar Usia Rotasi

Sudahkah kau menemukan bumi ?
Sudahkah kau tancap mantapkan pijak kaki ?
Hari ini 19 putar usia rotasi.
19 putar alur musim berubah ganti.
Dan sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?

Aku dulu mengenal mentary.
Mengenali sinar mata yang terbit di ujung subuh.
Ujung sinar api yang begitu jauh.
Dan setiap pagi yang dimulai dari sinar matanya,
menjelma hari yang terang utuh sempurna.
Dan setiap hari yang diterangi merah cahaya galuh,
menjadi deret sorot emas sore penuh,
tempat istirah semua gaduh.

Saat sore pergi lalu malam menggelar gelap hari,
aku tak tahu kemana engkau mentary sembunyi.
Hingga berapa lama ingatan - ingatan ku mulai mencari,
sesap - sesap sepi, sulur - sulur waktu yang mati
Menunggumu mengupas lembar - lembar kulit gelap,
adalah serenade malam paling lelap
( selelap malam yang membangun para mimpi )

Sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?
Sudahkah kau mengembunkan udara malam hari ?
Malam ini 19 putar masa rotasi.
19 rotasi telah engkau bersinar berdiri.
Sampai habis lelangit terlerap,
berhenti menderap.

selamat berputar kembali, mentary !

kbm, 030709
00.34

hppy brthdy mntry..

Thursday, July 2, 2009

Mentary #2

Embun selalu berhasil dilahirkan pagi oleh mentary
Namun nafas angin kemudian melarutkannya dalam kerat tanah
Terlalu singkat riwayat hidup embun – embun mentary
Alur harilah yang menjaganya tak pernah musnah
Rajin sekali mentary menyapa lelangit selepas malam mati
Yang dikafani dingin atmosfernya sendiri

Yaitu dingin yang mencapai lindap kulitku
Usia angin yang begitu renta serta sisa – sisa pepat udara
Lemas seperti ingatan masa lalu yang amat mampat
Ingatan – ingatan tentang mentary yang masih saja tersimpan rapat
Asap – asap memori yang menguarkan aroma
Namun bukan luka atau relikui cahaya
Apalagi ? hanya ingatan dan malam yang mati

Akar – akar ingatan mentary membangun pagi
Rekaman mimpi
Yang larut dalam dingin atmosfernya sendiri
Cuaca yang lemas, lelangit yang hitam lekas
Oh, bumi butuh engkau mentary !

Kbm, 020709
22.54