Tuesday, April 12, 2011

Memar Biru

Dari dalam memar biru di pelupuk mataku
Kutemukan ribuan nyala lampu
Yang mengubur cahaya-cahaya tua renta
Hingga tampak warnanya merah jingga

Tak jelas pula asal usul itu memar biru
Sebab semalam bintang tak nampak jatuh disitu
Tak nampak se-rasi pun nebula atau mungkin saja orion
Cuma ada beberapa memori dan rekaman-rekaman peristiwa
Adegan pilu

Di pelupuk mataku, kini tumbuh jelaga
Lebam, legam, sakit tua
Dan harum sedap pula baunya
Seperti harum ramu masakan ibu
Masakan pelahap waktu
:Tolong, sampaikan pada ibu,
aku terpaksa tak bisa pulang,
karena aku harus menyelesaikan kenangan-kenangan sepi itu
maaf ibu

Memar biru di pelupuk mataku
Memaksa masuk ke dalam relung mimpi tidur malamku !!

kbm, 100411

Thursday, April 7, 2011

Kepada: Sekantung Rindu

:Jangan pernah berpaling dari cinta yang ada... Berani mencinta siap terluka & sedih...


bagai akan musnah segala rupa, dari uratku yg nadi
arus sungai itu mengirim deras hujan kedalam hati
berkelok, beriak ke hulu ke semak tak tepi
mengantar gelepar getar ngilu nurani

kau
adalah wanita tentang kata-kata
tentang semua teka-teki
dan yang menyigi semua sore dan pagi
dapatkah engkau membalas jawab dari tanya ku ini ?
yang telah lucah tak bertuan ini
(aku memanggil diriku sendiri dengan sebutan "karma" atau "samsara")

dapatkah engkau membalas jawab dari tanyaku ?
agar jelas sudah siapa pemilik sebenarnya sekantung penuh rindu
seuntai lindap waktu

kau
adalah pembawa api mahabiru
cinta yang sedan sendu
menjaga angin barat daya tetap bertiup berperahu

aku
adalah sekelindan nadi yang beku, pencari api mahabiru
tak akan berpaling ku dari semua buluh-buluh rindu
walau tercerabut, walau luka dan sedih pilu
aku akan mencarimu

smg, 050411

Saturday, March 5, 2011

Nada Yang Terlampau Sepi

:aishiteru

Ragu kau mengangkat telepon
" Aku kehabisan nada dering " pikirmu
Waktu pun masih menunjukan pukul 6.20

Sepertinya memang suara dering yang barusan itu hanya terdengar selayaknya rintihan
Seperti gumam sepi yang masih berusaha kau isi
Dan dari dalam bilik matamu itu, malam masih tertinggal disana
Masih mencoba mendinginkan hangat suara
:Oh, ternyata sedari tadi, malam yang mencuri dering nada !

Aku ingin membangunkanmu
Menyeretmu keluar dari mimpi dan igau
Kau tahu ?
Sedari semalam aku terus membisu
Gelap malam mengajakku beradu nada dering-nada dering palsu
Kau tahu ?
Setelah malam menua dan pagi meninggi
Aku merasa semakin kehilangan hangat dering nada tubuhmu

kbm, 040311
06.41

Thursday, March 3, 2011

Seakan Pagi Dan Malam Abadi

:...seakan pagi dan malam abadi
(aishiteru)

Kemana aku harus menemukan pagi ?
Bila suatu saat nanti malam menjadi terlalu abadi
Dan yang sempat kau catat hanya sungut muka matahari ?
Jalan setapak itu, jalan berbatu itu..
Penuh sisa perkelahian malam dengan umurnya sendiri
Jalan yang biasa kau lalui, menuju lelap suara
Menuju rasa kantuk senja ( rasa ngilu tersebab sembab air mata )
Namun, seberapa rentakah malam mampu menemani dengkur tidurmu, Nona ?

*

Kemana aku harus menemukan malam ?
Bila suatu hari nanti pagi terlalu lama menjadi abadi
Dan engkau tak sempat mencatat berapa lama sudah hujan menggenangi danau di bening matamu
Jalan setapak itu, jalan rumput di tepi sungai itu
Senantiasa kau susuri, kau raba-raba sendiri
Jalan menuju kebun lebat warna-warni bunga
Kebun hangat warna-warni cahaya
( Rupa warna matahari, jalan setapak yang sepi )
Oh, seberapa tua pagi akan menjadi penunjuk jalanmu, Nona ?

smg, 270211

Thursday, February 24, 2011

Lanskap Waktu

yang tak sempat kau catat itu adalah waktu.
sejarah yang berulang-ulang, yang selalu sungsang diujung kepalamu.

yang tak sempat kau baca itu adalah pagi.
kitab-kitab yang kau sigi, rotasi matahari, lintang bujur lanskap bumi.

Friday, February 18, 2011

Pada Suatu Malam Yang Lain, Bulan Akan Datang Lagi Untukmu

#tapi setangkai ilalang memanahnya,
hingga bulanku jatuh dan berderai-derai


/1/
Kebencianmu pada ilalang itu mengalahkan ketakutanku kepada hujan
pada riap derap dentumnya saat bertemu bumi
riap derap yang menembus gigil dingin malam hari
dan dengan gemuruh dentum itu, seolah ia bercerita sesuatu tentang pertemuan kecilnya dengan bulan
bulan yg dihinggapi rasa khawatir dan getir
dan yang telah berjatuhan airmatanya baru saja
selepas ilalang busuk itu tepat memanah memar lukanya

/2/
Hujan hampir selesai menghabiskan titik airmata-airmata bulan
mengeringkan raut muka malam
seraya merapat kepadaku, ia kembali melanjutkan cerita :
"Pada suatu malam yang terang, bulan akan datang lagi
akan menyatukan hati, mengutuhkan mimpi
mengutuk sunyi² serta lembab dingin sepi.
Pada suatu malam yang lain, bulan akan datang lagi untukmu"

Smg, 190211