Apakah engkau keberatan menyimpan lembar-lembar baju seperti kau kesusahan menyimpan kenangan-kenangan kusut milik ku?
Ruas-ruas tubuh mu yang di partisi, nampak sesak tak lega lagi
Ruang yang tak cukup tinggi itu penuh sesak dijejali rindu,
perasaan-perasaan keriput yg menolak ditata rapi,
serta jaket merah jambu yang bersikeras ingin menyendiri
Aku tak hendak menjadikan mu brankas besi yang ku isi uang perak perunggu
karena aku tahu, kau hanya sekotak kayu pohon mahoni
dipahat beberapa abad lalu
Maka, bersahabat lah dengan para kutu
Sebab bisa saja mereka lebih peduli
terhadap musim yang bergonta-ganti
Dan mereka pula yang bertugas jaga kompartemen dalam tubuh mu
sehingga baju dan pakaianku tak beku dimakan hari
Aku akan meletakkan mu di sudut kanan kamarku
berdiam dan berdoalah dengan khusyuk
Karena kain dan kenangan yang saat ini kau simpan
berebut keluar dari dada mu
Dada mu?
pada dada mu, seluruh gemuruh mendung berkumpul untuk disetrika
sdj, 110218
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Saturday, February 10, 2018
Tuesday, February 6, 2018
Kunci
Sungguh
Engkaulah pemegang kuasa
bagi sesiapa pun yang hendak singgah
atau menumpang tetirah
Melalui persetubuhan celah pintu dengan engkau , terciptalah: Rumah
Kau yakin sekali
bila tanpa rayuanmu kepada pintu
maka mereka akan tergeletak menggeletuk kedinginan
di selasar bersama lampu
Sebab itulah kau selalu bersyarat kepada
para pemilikmu, agar selalu berdzikir
sebelum menggoyangkan lencang batangmu
ke sela lubang gelap itu
Namun, malam ini aku ingin mengendap-endap
dan berusaha untuk tetap tak terlihat oleh matamu
Seperti seekor rubah, aku ingin menyelinap
di bawah hidungmu yang memerah
Engkau tak bergeming
saat ku koyak kemaluan pintu, serta ku remas gerendelnya didalam mulutku
Dari darah yang mengucur itu aku kibaskan ekorku hingga kebas
Kemudian kutinggalkan Rumah yang kebingungan tanpa arah
dendam pun tuntas terbalas
tangis pun tercurah
sdj, 070218
Engkaulah pemegang kuasa
bagi sesiapa pun yang hendak singgah
atau menumpang tetirah
Melalui persetubuhan celah pintu dengan engkau , terciptalah: Rumah
Kau yakin sekali
bila tanpa rayuanmu kepada pintu
maka mereka akan tergeletak menggeletuk kedinginan
di selasar bersama lampu
Sebab itulah kau selalu bersyarat kepada
para pemilikmu, agar selalu berdzikir
sebelum menggoyangkan lencang batangmu
ke sela lubang gelap itu
Namun, malam ini aku ingin mengendap-endap
dan berusaha untuk tetap tak terlihat oleh matamu
Seperti seekor rubah, aku ingin menyelinap
di bawah hidungmu yang memerah
Engkau tak bergeming
saat ku koyak kemaluan pintu, serta ku remas gerendelnya didalam mulutku
Dari darah yang mengucur itu aku kibaskan ekorku hingga kebas
Kemudian kutinggalkan Rumah yang kebingungan tanpa arah
dendam pun tuntas terbalas
tangis pun tercurah
sdj, 070218
Thursday, January 25, 2018
Buka Puasa
Kepul asap mengerang di bibir cangkir
Suasana sekejap berubah menggala
Manis kafein mengantar sore kepada rembang senja
Lambung yang kian menggeletar
seharian sibuk puasa
Secangkir kopi adalah kamus lengkap untuk berbuka
sdj, 250118
Suasana sekejap berubah menggala
Manis kafein mengantar sore kepada rembang senja
Lambung yang kian menggeletar
seharian sibuk puasa
Secangkir kopi adalah kamus lengkap untuk berbuka
sdj, 250118
Thursday, January 18, 2018
Aku Tak Perlu Mencemaskanmu
Aku tak perlu mencemaskanmu
sebab saban malam, aku bakal selalu
tengadah ke langit. Menyampaikan rinduku
Kita bakal berpisah dan bertemu
bagai malam dan siang. Berputar seperti itu
Kau biarkanlah saja
Jarak hanyalah untaian aspal jalan semata
Waktu hanyalah tik-tok jam dalam dinding kaca
(Waktu seperti seorang kakek tua yang tak
suka bergegas
Ia bertahan, bersenang-senang dengan kenangan)
Apabila sore telah menua,
jangan alpa untuk selalu memanjatkan doa
bagi cerita kita
bagi si bocah kecil
Anak laki-laki yang tumbuh besar
kita merawatnya penuh sayang dan sabar
Aku tak perlu mencemaskanmu
kelambu malam akan selalu membungkus lelap kita jadi satu
Kita akan saling kembali
akan saling tunggu menunggui
sehingga tak terasa lagi lembab kasur
dingin tak tertahan sepanjang umur
sdj, 180118
sebab saban malam, aku bakal selalu
tengadah ke langit. Menyampaikan rinduku
Kita bakal berpisah dan bertemu
bagai malam dan siang. Berputar seperti itu
Kau biarkanlah saja
Jarak hanyalah untaian aspal jalan semata
Waktu hanyalah tik-tok jam dalam dinding kaca
(Waktu seperti seorang kakek tua yang tak
suka bergegas
Ia bertahan, bersenang-senang dengan kenangan)
Apabila sore telah menua,
jangan alpa untuk selalu memanjatkan doa
bagi cerita kita
bagi si bocah kecil
Anak laki-laki yang tumbuh besar
kita merawatnya penuh sayang dan sabar
Aku tak perlu mencemaskanmu
kelambu malam akan selalu membungkus lelap kita jadi satu
Kita akan saling kembali
akan saling tunggu menunggui
sehingga tak terasa lagi lembab kasur
dingin tak tertahan sepanjang umur
sdj, 180118
Wednesday, January 17, 2018
Seperti Akar Pada Hatimu
Pada akar beruntai sungai
pada riak kecipak gelombang
ikan mengetuk pintu
pada dadamu
Pada kepak buih busa
suaramu meluncur ke angkasa
seperti huruf. Tegak.
melantunkan spasi dalam ruang
penuh bintang, penuh matahari, penuh planet-planet,
penuh perut-perut lapar didera
badai tiada jeda
pada tengkuk yang merinding
gelombang sungai meluncur jatuh
ke bimasakti yang sedang ku pegangi
ikan-ikan berdiri
menyaksikan nasib terpental keatas
melayang. Terpintal pada galaksi yang jauh
Kita bersama-sama menyaksikan waktu
sambil berbaring
pada tempat yang bernama entah apa
aduh!
betapa waktu adalah huruf-huruf lapar
yang merengek minta di nina bobo
sambil disusui
susu itu, sejak kapan menyembul
dari bidang dadamu?
Sekeping logam berdenting
di ujung ruangan tak berpintu
kita saling berpagut malam itu
saling berteduh di tepian
sungai kita masing-masing
pada licin kulitmu yang bening
Pada mata
segala hal bermuara
termasuk sekerat dosa
Namun pada bibirmu
hatiku tertambat sangat erat
terbelit seperti akar
pada hatimu
sdj, 130118
pada riak kecipak gelombang
ikan mengetuk pintu
pada dadamu
Pada kepak buih busa
suaramu meluncur ke angkasa
seperti huruf. Tegak.
melantunkan spasi dalam ruang
penuh bintang, penuh matahari, penuh planet-planet,
penuh perut-perut lapar didera
badai tiada jeda
pada tengkuk yang merinding
gelombang sungai meluncur jatuh
ke bimasakti yang sedang ku pegangi
ikan-ikan berdiri
menyaksikan nasib terpental keatas
melayang. Terpintal pada galaksi yang jauh
Kita bersama-sama menyaksikan waktu
sambil berbaring
pada tempat yang bernama entah apa
aduh!
betapa waktu adalah huruf-huruf lapar
yang merengek minta di nina bobo
sambil disusui
susu itu, sejak kapan menyembul
dari bidang dadamu?
Sekeping logam berdenting
di ujung ruangan tak berpintu
kita saling berpagut malam itu
saling berteduh di tepian
sungai kita masing-masing
pada licin kulitmu yang bening
Pada mata
segala hal bermuara
termasuk sekerat dosa
Namun pada bibirmu
hatiku tertambat sangat erat
terbelit seperti akar
pada hatimu
sdj, 130118
Friday, December 8, 2017
Setiap Pagi
Kita dikandung, lahir, lalu hidup
lalu berkunjung ke bumi yang tak bisa kita miliki
selama beberapa masa
hanya beberapa masa saja
Nanti, saat telah cukup lelah usia
kemudian kita berjumpa seorang tua
Dan kita tahu akan kemana berjalan bersama
Kita lahir, hidup, lalu mati
Sesungguhnya,
kita berhutang budi pada Pencipta kematian
setiap pagi
sdj, 231117
lalu berkunjung ke bumi yang tak bisa kita miliki
selama beberapa masa
hanya beberapa masa saja
Nanti, saat telah cukup lelah usia
kemudian kita berjumpa seorang tua
Dan kita tahu akan kemana berjalan bersama
Kita lahir, hidup, lalu mati
Sesungguhnya,
kita berhutang budi pada Pencipta kematian
setiap pagi
sdj, 231117
Kaum Musuhku
Kaum musuhku menyelinap di dalam kamarku
mereka menjelma sekelebat angin
merangkak
setapak demi setapak
dari bawah selimutku yang kumal
Ketika lampu kamarku mulai pudar
mereka membiusku sejurus itu pula
akupun tak sadar
kemudian hilang akal
Aku tak mampu lagi menterjemahkan rasa pahit
Tubuhku beku, dalam sunyi bisu
tak lagi terlindungi ayat-ayat suci
yang biasanya menemaniku saat gelap hari
Benteng yang tangguh tergerus hingga rapuh
terpaksa musnah runtuh
*
Kaum musuhku tampil di acara televisi
sebagai pembawa acara siaran olah raga
kali ini aku melihatnya
dengan mata yang telah diprogram pula
Zaman yang tak dapat kutolak
Semakin rusak. Semakin rusak
tubuhku beku, tertambat di kapsul waktu
*
Bagaimana aku bisa menyelamatkan diri?
Kelak mungkin akan kutemui,
kaum musuhku menjadi sesosok siti
yang dulu seorang pelajar,
seorang proletar
kini menjadi binal. Seperti zaman.
Menjadi budak bagi budak lainnya
Budak yang nakal
"Tolong selamatkan kami! Selamatkan kami!"
Aku berteriak pada tubuhku
sendiri
sdj, 121117
mereka menjelma sekelebat angin
merangkak
setapak demi setapak
dari bawah selimutku yang kumal
Ketika lampu kamarku mulai pudar
mereka membiusku sejurus itu pula
akupun tak sadar
kemudian hilang akal
Aku tak mampu lagi menterjemahkan rasa pahit
Tubuhku beku, dalam sunyi bisu
tak lagi terlindungi ayat-ayat suci
yang biasanya menemaniku saat gelap hari
Benteng yang tangguh tergerus hingga rapuh
terpaksa musnah runtuh
*
Kaum musuhku tampil di acara televisi
sebagai pembawa acara siaran olah raga
kali ini aku melihatnya
dengan mata yang telah diprogram pula
Zaman yang tak dapat kutolak
Semakin rusak. Semakin rusak
tubuhku beku, tertambat di kapsul waktu
*
Bagaimana aku bisa menyelamatkan diri?
Kelak mungkin akan kutemui,
kaum musuhku menjadi sesosok siti
yang dulu seorang pelajar,
seorang proletar
kini menjadi binal. Seperti zaman.
Menjadi budak bagi budak lainnya
Budak yang nakal
"Tolong selamatkan kami! Selamatkan kami!"
Aku berteriak pada tubuhku
sendiri
sdj, 121117
Subscribe to:
Posts (Atom)