yang tak sempat kau catat itu adalah waktu.
sejarah yang berulang-ulang, yang selalu sungsang diujung kepalamu.
yang tak sempat kau baca itu adalah pagi.
kitab-kitab yang kau sigi, rotasi matahari, lintang bujur lanskap bumi.
bahasa ini disusun, sebagai pengingat bagi kedua kaki tentang peta menuju rumah; bentang pemandangan yang akrab kukenal
Thursday, February 24, 2011
Friday, February 18, 2011
Pada Suatu Malam Yang Lain, Bulan Akan Datang Lagi Untukmu
#tapi setangkai ilalang memanahnya,
hingga bulanku jatuh dan berderai-derai
/1/
Kebencianmu pada ilalang itu mengalahkan ketakutanku kepada hujan
pada riap derap dentumnya saat bertemu bumi
riap derap yang menembus gigil dingin malam hari
dan dengan gemuruh dentum itu, seolah ia bercerita sesuatu tentang pertemuan kecilnya dengan bulan
bulan yg dihinggapi rasa khawatir dan getir
dan yang telah berjatuhan airmatanya baru saja
selepas ilalang busuk itu tepat memanah memar lukanya
/2/
Hujan hampir selesai menghabiskan titik airmata-airmata bulan
mengeringkan raut muka malam
seraya merapat kepadaku, ia kembali melanjutkan cerita :
"Pada suatu malam yang terang, bulan akan datang lagi
akan menyatukan hati, mengutuhkan mimpi
mengutuk sunyi² serta lembab dingin sepi.
Pada suatu malam yang lain, bulan akan datang lagi untukmu"
Smg, 190211
hingga bulanku jatuh dan berderai-derai
/1/
Kebencianmu pada ilalang itu mengalahkan ketakutanku kepada hujan
pada riap derap dentumnya saat bertemu bumi
riap derap yang menembus gigil dingin malam hari
dan dengan gemuruh dentum itu, seolah ia bercerita sesuatu tentang pertemuan kecilnya dengan bulan
bulan yg dihinggapi rasa khawatir dan getir
dan yang telah berjatuhan airmatanya baru saja
selepas ilalang busuk itu tepat memanah memar lukanya
/2/
Hujan hampir selesai menghabiskan titik airmata-airmata bulan
mengeringkan raut muka malam
seraya merapat kepadaku, ia kembali melanjutkan cerita :
"Pada suatu malam yang terang, bulan akan datang lagi
akan menyatukan hati, mengutuhkan mimpi
mengutuk sunyi² serta lembab dingin sepi.
Pada suatu malam yang lain, bulan akan datang lagi untukmu"
Smg, 190211
Friday, January 7, 2011
Balada Kertas
Aku hanya menerka darimana kertas berasal
tepian hutankah ?
ditempat yg sama nenek moyang kami bermuasal
*
aku juga bertanya, dimanakah secarik kertas untuk sajakmu ini tinggal ?
di batu, di sumur, di tanah ?
di hangat rahim ibu, atau di lubang tempat ruh mu nanti hijrah-kah ?
kbm, 050111
tepian hutankah ?
ditempat yg sama nenek moyang kami bermuasal
*
aku juga bertanya, dimanakah secarik kertas untuk sajakmu ini tinggal ?
di batu, di sumur, di tanah ?
di hangat rahim ibu, atau di lubang tempat ruh mu nanti hijrah-kah ?
kbm, 050111
Thursday, May 20, 2010
Cerita Akhir Malam
:DA
bumi
langit
cahaya
terpilin semua oleh gelombang udara !!
waktu adalah malam hari yang keluar dari balik matamu
yang tak bisa kau tawar lagi dengan kedip semu
atau tatapan haru
lorong gelap
bumi
langit
aku perlu cahaya, engkau cahaya !
berapakah harga waktu yang selalu kau pinta di tiap kedip matamu ?
seharga permata atau air mata ?
maka aku tak lagi bisa menebak-nebak kisaran tawa yang harus kukirim ke lesung manis ronamu
( maaf, aku harus menuliskan sesuatu tentang kesedihanmu. karena senyum itu hilang dan tenggelam )
lorong gelap di ujung bumi itu adalah langit malam hari yang tenggelam
seperti senyummu..
kira-kira, berapa harga satu jengkal tawa dalam hening waktu ?
aku akan membayarnya dengan pagi yang mampu lesap masuk ke lesung manis rona wajahmu !
kbm, 160110
01.42
bumi
langit
cahaya
terpilin semua oleh gelombang udara !!
waktu adalah malam hari yang keluar dari balik matamu
yang tak bisa kau tawar lagi dengan kedip semu
atau tatapan haru
lorong gelap
bumi
langit
aku perlu cahaya, engkau cahaya !
berapakah harga waktu yang selalu kau pinta di tiap kedip matamu ?
seharga permata atau air mata ?
maka aku tak lagi bisa menebak-nebak kisaran tawa yang harus kukirim ke lesung manis ronamu
( maaf, aku harus menuliskan sesuatu tentang kesedihanmu. karena senyum itu hilang dan tenggelam )
lorong gelap di ujung bumi itu adalah langit malam hari yang tenggelam
seperti senyummu..
kira-kira, berapa harga satu jengkal tawa dalam hening waktu ?
aku akan membayarnya dengan pagi yang mampu lesap masuk ke lesung manis rona wajahmu !
kbm, 160110
01.42
Friday, July 3, 2009
19 Putar Usia Rotasi
Sudahkah kau menemukan bumi ?
Sudahkah kau tancap mantapkan pijak kaki ?
Hari ini 19 putar usia rotasi.
19 putar alur musim berubah ganti.
Dan sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?
Aku dulu mengenal mentary.
Mengenali sinar mata yang terbit di ujung subuh.
Ujung sinar api yang begitu jauh.
Dan setiap pagi yang dimulai dari sinar matanya,
menjelma hari yang terang utuh sempurna.
Dan setiap hari yang diterangi merah cahaya galuh,
menjadi deret sorot emas sore penuh,
tempat istirah semua gaduh.
Saat sore pergi lalu malam menggelar gelap hari,
aku tak tahu kemana engkau mentary sembunyi.
Hingga berapa lama ingatan - ingatan ku mulai mencari,
sesap - sesap sepi, sulur - sulur waktu yang mati
Menunggumu mengupas lembar - lembar kulit gelap,
adalah serenade malam paling lelap
( selelap malam yang membangun para mimpi )
Sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?
Sudahkah kau mengembunkan udara malam hari ?
Malam ini 19 putar masa rotasi.
19 rotasi telah engkau bersinar berdiri.
Sampai habis lelangit terlerap,
berhenti menderap.
selamat berputar kembali, mentary !
kbm, 030709
00.34
hppy brthdy mntry..
Sudahkah kau tancap mantapkan pijak kaki ?
Hari ini 19 putar usia rotasi.
19 putar alur musim berubah ganti.
Dan sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?
Aku dulu mengenal mentary.
Mengenali sinar mata yang terbit di ujung subuh.
Ujung sinar api yang begitu jauh.
Dan setiap pagi yang dimulai dari sinar matanya,
menjelma hari yang terang utuh sempurna.
Dan setiap hari yang diterangi merah cahaya galuh,
menjadi deret sorot emas sore penuh,
tempat istirah semua gaduh.
Saat sore pergi lalu malam menggelar gelap hari,
aku tak tahu kemana engkau mentary sembunyi.
Hingga berapa lama ingatan - ingatan ku mulai mencari,
sesap - sesap sepi, sulur - sulur waktu yang mati
Menunggumu mengupas lembar - lembar kulit gelap,
adalah serenade malam paling lelap
( selelap malam yang membangun para mimpi )
Sudahkah kau benar - benar melahirkan pagi ?
Sudahkah kau mengembunkan udara malam hari ?
Malam ini 19 putar masa rotasi.
19 rotasi telah engkau bersinar berdiri.
Sampai habis lelangit terlerap,
berhenti menderap.
selamat berputar kembali, mentary !
kbm, 030709
00.34
hppy brthdy mntry..
Thursday, July 2, 2009
Mentary #2
Embun selalu berhasil dilahirkan pagi oleh mentary
Namun nafas angin kemudian melarutkannya dalam kerat tanah
Terlalu singkat riwayat hidup embun – embun mentary
Alur harilah yang menjaganya tak pernah musnah
Rajin sekali mentary menyapa lelangit selepas malam mati
Yang dikafani dingin atmosfernya sendiri
Yaitu dingin yang mencapai lindap kulitku
Usia angin yang begitu renta serta sisa – sisa pepat udara
Lemas seperti ingatan masa lalu yang amat mampat
Ingatan – ingatan tentang mentary yang masih saja tersimpan rapat
Asap – asap memori yang menguarkan aroma
Namun bukan luka atau relikui cahaya
Apalagi ? hanya ingatan dan malam yang mati
Akar – akar ingatan mentary membangun pagi
Rekaman mimpi
Yang larut dalam dingin atmosfernya sendiri
Cuaca yang lemas, lelangit yang hitam lekas
Oh, bumi butuh engkau mentary !
Kbm, 020709
22.54
Namun nafas angin kemudian melarutkannya dalam kerat tanah
Terlalu singkat riwayat hidup embun – embun mentary
Alur harilah yang menjaganya tak pernah musnah
Rajin sekali mentary menyapa lelangit selepas malam mati
Yang dikafani dingin atmosfernya sendiri
Yaitu dingin yang mencapai lindap kulitku
Usia angin yang begitu renta serta sisa – sisa pepat udara
Lemas seperti ingatan masa lalu yang amat mampat
Ingatan – ingatan tentang mentary yang masih saja tersimpan rapat
Asap – asap memori yang menguarkan aroma
Namun bukan luka atau relikui cahaya
Apalagi ? hanya ingatan dan malam yang mati
Akar – akar ingatan mentary membangun pagi
Rekaman mimpi
Yang larut dalam dingin atmosfernya sendiri
Cuaca yang lemas, lelangit yang hitam lekas
Oh, bumi butuh engkau mentary !
Kbm, 020709
22.54
Tuesday, April 28, 2009
mentary
:eya
Engkau baru saja datang sebagai kenangan
Namun sebentar lagi kenangan yang akan melukismu
Tepat pada tinggi titikmu yang sewarna semu
Antara arah angin mata serta sebidang bukit di punggungmu
Ratusan katakata kemudian berjatuhan saja di baris jemari kakikaki pagi
Yang telah renta terbang tertiup dan beterbangan
Yang terlihat dari sebalik dedaun adalah rambutmu
Untaian hitam seluruh ingatan-ingatan tentang malam
Lahir masa depan yang jauh dari dedaun-dedaun ingatan malam
Ingatan juga menciptakan kota di tepi uraian rambutmu
Agar bisa kita singgahi bangku taman sekolah kita yang dulu
Nun kosong setelah engkau berlari membelakangi waktu
Alur siur di balik bukit punggungmu ( adalah waktu )
Alur siur itu membawamu pergi menjelma mentary
Rumah bagi setiap cuaca dan semua pagi yang lewat
Yang jemari kakikakinya masih saja menuliskan masa lalu dan ingat
Celah-celah renta di titik tinggi tepi pagi tertulis :
: Ooh, aku memang tak mau melupakan mentary
kbm,160509
21.39
Engkau baru saja datang sebagai kenangan
Namun sebentar lagi kenangan yang akan melukismu
Tepat pada tinggi titikmu yang sewarna semu
Antara arah angin mata serta sebidang bukit di punggungmu
Ratusan katakata kemudian berjatuhan saja di baris jemari kakikaki pagi
Yang telah renta terbang tertiup dan beterbangan
Yang terlihat dari sebalik dedaun adalah rambutmu
Untaian hitam seluruh ingatan-ingatan tentang malam
Lahir masa depan yang jauh dari dedaun-dedaun ingatan malam
Ingatan juga menciptakan kota di tepi uraian rambutmu
Agar bisa kita singgahi bangku taman sekolah kita yang dulu
Nun kosong setelah engkau berlari membelakangi waktu
Alur siur di balik bukit punggungmu ( adalah waktu )
Alur siur itu membawamu pergi menjelma mentary
Rumah bagi setiap cuaca dan semua pagi yang lewat
Yang jemari kakikakinya masih saja menuliskan masa lalu dan ingat
Celah-celah renta di titik tinggi tepi pagi tertulis :
: Ooh, aku memang tak mau melupakan mentary
kbm,160509
21.39
Subscribe to:
Posts (Atom)