Friday, December 8, 2017

Setiap Pagi

Kita dikandung, lahir, lalu hidup
lalu berkunjung ke bumi yang tak bisa kita miliki
selama beberapa masa
hanya beberapa masa saja
Nanti, saat telah cukup lelah usia
kemudian kita berjumpa seorang tua
Dan kita tahu akan kemana berjalan bersama

Kita lahir, hidup, lalu mati
Sesungguhnya,
kita berhutang budi pada Pencipta kematian
setiap pagi

sdj, 231117

Kaum Musuhku

Kaum musuhku menyelinap di dalam kamarku
mereka menjelma sekelebat angin
merangkak
setapak demi setapak
dari bawah selimutku yang kumal

Ketika lampu kamarku mulai pudar
mereka membiusku sejurus itu pula
akupun tak sadar
kemudian hilang akal

Aku tak mampu lagi menterjemahkan rasa pahit
Tubuhku beku, dalam sunyi bisu
tak lagi terlindungi ayat-ayat suci
yang biasanya menemaniku saat gelap hari
Benteng yang tangguh tergerus hingga rapuh
terpaksa musnah runtuh
*
Kaum musuhku tampil di acara televisi
sebagai pembawa acara siaran olah raga
kali ini aku melihatnya
dengan mata yang telah diprogram pula

Zaman yang tak dapat kutolak
Semakin rusak. Semakin rusak
tubuhku beku, tertambat di kapsul waktu
*
Bagaimana aku bisa menyelamatkan diri?
Kelak mungkin akan kutemui,
kaum musuhku menjadi sesosok siti
yang dulu seorang pelajar,
seorang proletar
kini menjadi binal. Seperti zaman.
Menjadi budak bagi budak lainnya
Budak yang nakal

"Tolong selamatkan kami! Selamatkan kami!"
Aku berteriak pada tubuhku
sendiri

sdj, 121117

Wednesday, November 8, 2017

Panel Sepi

Kita diam
dalam seribu kerangka pikir yang mejan
Balon-balon percakapan yang terlanjur tertahan
kalimat tak pernah lewat
hanya udara melompat-lompat

Aku berulang kali memikirkan mu
kata-kata ku mencoba menebak kalimat-kalimat mu
apakah isi sama dengan sampiran?
akankah hati sama seperti dugaan?

Kalaupun harus seperti ini
mari saling hanyut dalam ruang sepi
sebagai air
sebagai matahari
kita peluk balon percakapan kita masing-masing
menatap keluar bingkai dan menjadi terasing

sdj,091017

Saturday, November 12, 2016

Telah Ia Hilang

Telah ia sudahi lengking lolong birahi, pada ruang persegi itu, ia sendiri. Telah ia padami lentera bagi ritual terkutuk yang ia benci, yang rutin ia mulai saat terbenam hari. Kini kau tahu kenapa malam begitu membencinya, kan? Ia telah terbuang dan diasingkan dalam sebuah bentuk yang tak pernah ia kenal. Dan setelah segala rupa lenyap, maka ia tak mungkin lagi kembali ke rumah. Ataupun hanya untuk sekedar singgah di halaman masa kecilnya sambil memandang lanskap familiar, bentang pemandangan yang akrab ia kenal. Hanya dapat mengenang sulur-sulur serta akar, ia menangis sejadinya, sedalamnya, sesedunya. Pohon teduh. Pagar putih tempat ia bernaung kala terik menyambangi waktu tidur siangnya. Tak mungkin ia jumpai kembali setiap detil ingatan yang menenangkan. Ia telah hilang sangat dalam, begitu dalam, kedalam semua kebisingan dan kericuhan usia. Tak ada lagi peta yang memberi arah, tak ada lagi kompas yang menunjuk rumah.
Telah ia sudahi seluruh mimpi, ia sendiri.
seluruhnya nyeri.

sdj, 111216

Friday, November 4, 2016

Pelaju

malam terlarut di pekat kabut
dalam sujud antara roda dan aspal jalan raya
bibirku berbisik. membisikkan doa kepada malam yang luas
kepada dingin yang turun lekas

apa yang melaju tapi bergeming?
apa yang terhenti namun melesat melengking?
adalah kalimat
sajak paling hikmat
kepada nya aku terus bertirakat
mengusir kantuk yang terlanjur memberat

pelajaran ini bernama perjalanan
bagi kaum ku: perantau bintang
besok pagi kami harus tetirah
sebagai sekawanan lebah
doa kami berterbangan ke penjuru angkasa
bertebaran ke bunga-bunga
penuh pheromon, licin meluap dengan manis cinta

ku tempuh seluruh dingin tebal ini
menyusuri kelam pagi
meluruhkan jalan sepi
membawa pulang hati sendiri

tmg, 051116

Tuesday, November 1, 2016

Adalah

Adalah ratap, yang selalu kami tuai
pada luas pematang kami
Liar. Bagai ilalang
selalu tumbuh dan tumbuh
Hingga hati kami tak pernah bernas
sering cemas

Adalah gamang, yang selalu ditembang
pada luas selasar kami
Halaman rumah yang tak tertata rapi
Sumbang. Berkelontang
Kami simpan dalam rantang
rentang waktu yang menjemukan
Hingga mata kami tak pernah pejam
sering buram

sdj, 220616

Ingin

Ingin ku luruhkan malam minggu
Sirna. Angin luka membisu
Dalam jalan panjang penuh kerikil batu
     Batu? Bukankah jejak kaki
     saja yang menghancurkan?

Ingin ku luruskan bengkok tulang
Ngilu. Daging mengerang membiru
Dalam jalan panjang penuh degil debu
     Debu? Bukankah keras hati
     saja yang mengacuhkan?

Ingin ku sirnakan ngilu
hancurkan?
acuhkan?

sdj, 210616